My life isn't perfect, but I'm thankful for everything I have

Anti-flea Shampoo

A Couple months ago at my sisters house I took a shower in the morning and I washed my hair. When I brushed my hair with shampoo it didn't lather or foam and I began to wonder why? I thought I took too little shampoo then I took more but nothing changed. Instead my hair felt oily and it seemed to make my hair more dirty. It was then I had a closer look at the bottle of shampoo and to my utter shock and horror, it wasn't shampoo but a conditioner. Who is stupid? The bottle looks the same.

I looked for shampoo. I read all the bottles in the bathroom but there was no shampoo. I only found shampoo for babies can be seen from the bottle with a cartoon picture and smells of fruit. Who has this? My sister doesn't have a baby. I don't want to think about it. I was forced on using it just not make me feel more clean. But it's okay because I didn't have much choice.

When I am finished I told my sister. She was laughing so hard while saying "Honey that's not shampoo for babies but for Echia. Sorry I forgot to tell you I ran out of shampoo in the bathroom. But it's okay, never mind it's fair to say you don't have fleas in your hair because you used anti-flea shampoo".

Echia is her favorite CAT !!! 😭😭😭
Share:

Giethoorn Desa Bebas Polusi

Giethoorn merupakan desa di Belanda yang terkenal dengan keasriannya. Tidak ada jalan raya maupun kendaraan bermotor sehingga bebas suara bising dan asap knalpot. Desa ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai berair jernih dan tenang. Transportasi utama di desa ini menggunakan perahu boat serta dayung sampan. Tapi hanya diperbolehkan perahu yang bersuara lembut atau whisper boat. Tidak ada perahu mesin diesel bersuara brisik sehingga suasana tetap hening, tenang dan nyaman. Jika tidak banyak pengunjung hanya terdengar suara kicauan burung dan celotehan bebek berenang. Cocok sekali untuk relaksasi mencari kedamaian. Biarpun tidak ada kendaraan desa ini sangat modern dan bersih tidak ada sampah.

Terletak di daerah Steenwijkerland, Propinsi Overijssel, Belanda utara. Sekitar 2 jam dari Amsterdam yaitu menggunakan kereta dari Amsterdam Central ke Steenwijk selama 1 jam lalu naik bus nomer 70 ke arah Zwartsluis dan turun di Dominee Hylkemaweg yang berangkat setiap 1 jam sekali. Jika oneday trip setidaknya sediakan waktu 5 jam untuk pulang pergi. Pastikan dengan benar jadwal keberangkatan bus karena jika tertinggal bisa menunggu lumayan lama.

Dari halte Dominee Hylkemaweg belum terlihat desa cantik itu. Jalan kaki sekitar 300 meter mulai terlihat adanya rumah tradisional khas Giethoorn yang sangat unik. Tidak ada gerbang khusus yang menandai pintu masuk. Hanya berderet perahu boat di sungai di pinggir jalan untuk disewakan. Saat musim panas pengunjung sangat ramai perahu ini selalu full booked. Sehingga disarankan untuk booking online sebelum berangkat. Syukurlah saya kesana saat musim semi pengunjung tidak begitu ramai dan masih banyak pilihan perahu.

Harga tergantung rute yang akan ditempuh. Ada rute 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Karena rute 2 dan 3 jam hanya beda sedikit saya hanya mengambil rute 2 jam. Perahu berkapasitas 6 orang dengan harga 30€. Jika bepergian sendiri / solotravel bisa membeli tiket sharing perahu yang berkapasitas 45 orang seharga 7.5€ per orang untuk rute 1 jam. Bisa juga menyewa sepeda mulai dari 10€ per jam. Tapi pilihan sepeda tidak terlalu banyak. Agar terasa lebih dekat, gratis dan bebas pikiran dari mengembalikan perahu atau sepeda sewaan, jalan kaki adalah pilihan terbaik.

Kita lihat yuk seperti apa indahnya desa negeri dongeng ini. Jangan lupa siapkan kamera dan memori card sebanyak-banyaknya. Sekalian juga siapkan baju prewedding setidaknya 10 pasang. Desa romantis ini sangat cocok sekali dijadikan tempat untuk mengabadikan moment dan dicetak di kartu undangan.

Welcome to Fairy Tale "Rudolvo".

Saat musim dingin sungai ini akan membeku dan biasanya dijadikan tempat bermain ice skating.

Setiap rumah punya boat pribadi.

Terdapat sekitar 180 jembatan penghubung antar pulau kecil.

Atap jerami dan ijuk lebih mahal dari pada atap genteng.

Desa ini berada di tanah pertanian gambut dengan rumah tradisional beratap jerami dan ijuk yang berumur lebih dari 100 tahun. Desa yang dijuluki "Venice of Netherlands" ini konon dibangun pada tahun 1230 hingga saat ini berpenduduk sekitar 2600 orang.

Selain bekeliling dengan perahu boat kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengunjungi museum. Desa ini memiliki dua museum yang terkenal, yaitu Museum De Oude Aarde yang memamerkan batu atau mineral dari berbagai belahan dunia, serta Museum Het Olde Maat yang menampilkan Giethoorn 100 tahun yang lalu.

Semua tempat menarik untuk foto pre dan post wed-wed.

Di desa ini tidak boleh didirikan hotel, tapi banyak penginapan semacam guest house dengan konsep bed and breakfast.

Sungai yang jernih dan tenang.

Maen ke rumah nenek sekalian survey tempat untuk foto prewedding.

Whisper Boat.

Lelah berkeliling desa berfoto jeprat jepret di depan rumah negeri dongeng, bisa mampir ke restaurant dan cafe yang menyediakan berbagai menu kebarat-baratan. Yang pasti tidak akan ditemukan nasi ataupun bakso. Padahal duduk di pinggir sungai sambil nyeruput kuah bakso anget-anget akan menjadi hal yang istimewa tapi lupakan itu. Saya hanya membeli es krim dan wafle yang rasanya seperti es krim pada umumnya. Jangan lupa membeli cendera mata khas Giethoorn sebagai kenang-kenangan di toko pernak-pernik yang masih berada di kawasan desa ini.
Share:

Berita Duka - Senin 10 Desember 2018

Hari minggu tanggal 9 saya seharusnya dinas pagi tapi tukar ke siang karena ikut event Fun Run di Cikerai. Berangkat naik gocar jam 06.00 dengan Cita dan Christine lalu ketemuan dengan Kang Maman dan keluarga Kak Ainun di TKP. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 peserta laki-laki dipersilahkan lari duluan disusul peserta perempuan. Mayoritas bocah cilik SD dan SMP karena hanya berjarak 3 km dan gratis. Start dari Waras Farm dan finish di Villa Ternak.

Selesai acara kami keliling Villa Ternak. Buat orang kota mungkin pengalaman yang beda bisa melihat kambing langsung di kandangnya. Apalagi anak-anak. Sedangkan orang desa seperti saya ya biasa banget mending pulang kampung kandangnya lebih besar dan kambingnya lebih banyak. Hampir setiap rumah punya. Mau bantu cari rumput, kasih makan atau minum pasti dipersilahkan dengan senang hati. Gratis pula tidak ada cerita tiket masuk. Sepuasnya mau tidur bareng kambing juga boleh. Bebas.

Jam 10.00 saatnya pulang cari gocar tidak ada. Jadinya hike hitching ke mobil orang dan diperbolehkan nebeng sampai JLS lalu pesan gocar yang banyak bertebaran.

Setelah istirahat mandi dan sholat dzuhur saya berangkat kerja jam 13.45. Dines bersama Christine dan Boss. Jam 16.00 sekalian keliling ruang perawatan saya bersama Christine nengok ibu kos yang sedang dirawat di Wijaya Kusuma kamar 7-1. Ibu terbaring lemas dengan selang oksigen menempel di hidung. Nafasnya tersengal sesak tampak berat sekali saat diajak ngomong. Tapi tetap berusaha menyambut saya dengan senyum ramahnya. Senyum khas ibu yang membuat matanya terlihat semakin sipit. Ibu memang jarang cemberut. Selama ngekos saya tidak pernah melihat ibu marah.

"Ibu kok belum pulang-pulang di rumah sepi" candaan saya seperti biasa saat ibu masuk rumah sakit. Dengan nafas tersengal ibu hanya menjawab lirih.
"Iyaaa..."
"Ibu sekarang yang dirasain apa?"
"Pengen pulang..."

Tiga hari sebelumnya sempat dirawat di ICU. Sudah pindah ke perawatan biasa berarti telah membaik. Biasanya tak berapa lama diperbolehkan pulang dan semua pun berharap demikian. A Ridho dan kakaknya keluar kamar memberi kesempatan saya agar lebih nyaman bersama ibu. Tapi kondisi ibu tidak memungkinkan diajak ngobrol berlama-lama. Nafasnya sangat berat. Saya hanya memegang tangannya sambil lihat-lihatan dan melempar senyum. Wajah ibu tampak bersih. Tempat tidurnya ditinggikan menjadi setengah duduk. Tidak biasanya ibu selemas ini. Semoga 3 atau 4 hari lagi pemulihan ibu sehat kembali.

"Mau ambil darah ibu?" tanya ibu melihat formulir tes laboratorium yang saya pegang.
"Gak bu, ini buat pasien kamar sebelah"
"Ohh..."
"Ya sudah ibu jangan banyak ngobrol, ibu harus banyak istirahat biar cepat sembuh"
"Iyaa..."
"Saya ke sebelah dulu ya, ibu cepat pulang pokoknya kita tunggu di rumah"
"Makasih yaa..." jawab ibu dengan senyum yang tak pernah lepas.

Saya melanjutkan tugas negara menyedot darah pasien di kamar yang lain dan membawa ke tempat saya sehari-hari berkutat di rumah sakit.

Keesokan harinya saya kembali dinas pagi. Pulang dinas jam 14.15 bertemu dengan Saddam anak terakhir ibu sedang duduk di teras. Pintu samping terbuka lebar tidak seperti biasanya. Terasa ada yang  beda tapi susah dijelaskan.

"Ibu sudah pulang?"
"Belum..." jawab Saddam.

Saya masuk ke kamar berbaring di kasur kesayangan di kosan Bu Haji Pur. Ibu bernama Alinah tapi biasa dipanggil Bu Haji Pur oleh tetangga sekitar. Baju kotor telah menumpuk tapi masih enggan untuk merendamnya. Nanti saja setelah sholat ashar. Saya sempat tertidur 30 menit dan terbangun saat adzan berkumandang.

Selesai sholat saya melanjutkan niat merendam baju lalu membuat pudding mangga nutrijel dan nasi goreng untuk buka puasa. Saya sedang puasa hari senin. Saat meletakkan HP diatas kulkas mata kiri tiba-tiba kedutan. Kalau kata orang kedutan di mata tandanya mau nangis. Halah mitos nangis apaan. Lupakan. Lalu sibuk menyiapkan menu berbuka.

Di kulkas tidak ada sayuran. Hanya ada teri, bakso dan telur puyuh. Paling praktis ya bikin nasi goreng karena bosan masakan warung. Besok pagi rencana saya jogging sambil lewat membeli sayur di tempat nenek langganan.

Tengah menumis bumbu nasi goreng tiba-tiba A Ridho masuk lewat pintu samping dengan terburu-buru dan hidungnya meler seperti sedang pilek sambil ngobrol di telpon. Ada ibu-ibu saudaranya yang mengikuti di belakangnya. Saya tidak memakai kerudung. Saya matikan kompor dan lari ke kamar mengambil kerudung. A Ridho mengejar saya berdiri di depan kamar kosong seberang kamar Cita.

"Mbak Cita" panggilnya dikira saya Cita.
"Cita ga ada lagi pulang" teriak saya dari balik pintu karena kerudung belum terpakai sempurna.
"Mbak maafin mama ya, MAMA UDAH GAK ADA" kata A Ridho dengan suara terisak.

Innalillahi wa innaillaili rajiun... Seketika kaki lemas bingung dan lupa apa yang akan saya lakukan. Wajah ibu saat bertemu kurang dari 24 jam yang lalu melintas dipelupuk mata. Masih salaman masih ngobrol masih tersenyum. Ya Allah... Benarkah sekarang sudah tidak ada?

Saya mengabari Cita dan Yuni di whatsapp. Yuni kebetulan sedang menuju ke kosan. A Ridho kembali ke rumah sakit. Saya dan Yuni menyusul ke rumah sakit ke Wijaya Kusuma kamar 7-1. Kemarin di kamar ini ibu masih tersenyum. Mata sipitnya masih terbuka. Tidur meninggi setengah duduk kakinya di dalam selimut. Sekarang ibu tertidur dengan posisi lurus ditutup kain jarik bukan selimut rumah sakit. Di balik kain jarik wajah ibu sangat pucat. Matanya menutup seperti tertidur pulas. Entah mata saya yang salah atau terlalu berharap, seolah perut ibu masih bergerak naik turun. Ibu seperti masih bernafas.

"Ibu kemaren saya bilang ibu cepat pulang maksudnya pulang ke rumah bukan pulang kesana..." Memang Allah lebih sayang ke ibu. Agar tidak merasakan sakit lagi. Tidak bolak balik ke rumah sakit untuk cek gula darah. Tidak perlu minum obat lagi. Insya Allah ibu diberikan tempat terbaik di sisi Allah karena sehari-harinya sholat, ngaji dan dzikirnya rajin sekali. Insya Allah husnul khatimah.

Malam itu juga ibu dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan disana. Hanya singgah 1 jam ke rumah berpamitan dan didoakan tetangga sekitar. Setelah kepergian ibu kosan ini sepinya beda. Memang sering kosong ditinggal ke Jakarta atau kemana tapi kali ini beda. Ada keistimewaan di rumah ini yang tiba-tiba menghilang.

Malam itu di kosan hanya bertiga dengan Yuni dan Heni tidur di kamar masing-masing. Kami semua sulit memejamkan mata. Terbayang wajah ibu dan senyum ramahnya yang khas sekali. Dimanapun bertemu selalu tersenyum. Tapi senyum itu tidak akan ada lagi. Langkah ibu yang menyeret sandal tidak akan terdengar lagi. Batuk ibu dari dalam kamar tidak akan terdengar lagi. Dengkuran ibu saat saya lewat di pintu samping juga tidak terdengar lagi. Tidak ada lagi yang memanggil Cita memberitahu ada paket. Ibu telah kembali ke pangkuan-Nya. Alam yang beda. Semua pada akhirnya juga akan kesana. Selamat Jalan Ibu. Kebaikan ibu akan selalu terkenang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiinn. We gonna miss you Ibu.



Share:

Tidur Di Hotel Berjalan

Salju setinggi mata kaki menutupi sepanjang jalan dari Gärdet Metro Station ke Värtahamnen Ferry Terminal sejauh 500 meter. Hamparan lembut serbuk es itu harus terkoyak oleh pijakan sepatu dan roda koper. Membentuk telapak kaki dan dua garis memanjang seperti rel kereta. Garis itu sesekali bengkok akibat roda koper terjebak di jalan berlubang. Tidak membutuhkan waktu lama jalan itu akan mulus kembali karena hujan salju masih belum berhenti. Semakin mendekat ke ferry terminal tumpukan salju semakin tebal. Laut dan daratan tidak ada bedanya. Semua membeku.

Di tepi ferry terminal teronggok dua kapal besar milik perusahaan Tallink. Berwarna putih tingginya melebihi gedung terminal. Satu diantaranya bernama MS Baltic Queen. Kapal inilah yang akan membawa saya ke Tallinn Estonia untuk melengkapi tugas menikmati dunia. Dengan pertimbangan menginap di hotel sekalian pindah tempat (hotel berjalan). Agar merasakan seperti rangorang sekalian latihan jadi menantu raja minyak biar gak kaget. Apalagi kapal pesiar di Eropa yang punya standar kenyamanan dan keamanan yang memadai, sesekali layak dicoba agar taunya jangan hanya kapal Ro-Ro Merak Bakauheni.

Download dari google agar terlihat full body.

Kapal MS Baltic Queen tampak dari belakang dalam cuaca galau.

Menginjakkan kaki ke garbarata mata mulai terbelalak berdecak kagum tapi pura-pura biasa aja agar tidak terlihat norak. Sesekali melirik kapal dari sela-sela kaca. Namanya juga latihan jadi sok kalem elegant padahal dalam hati teriak "Wajegile ndro bagus amat yak" Seandainya di kampung sendiri pasti bakal ngoceh panjang lebar tentang kapal ini.

Kapal ini akan berangkat jam 19.00 waktu Stockholm. Saya mulai masuk 1 jam sebelumnya. Di depan pintu berderet petugas berseragam necis berparas seperti boneka menyambut saya bak tuan putri. Interior di dalam sejauh mata memandang kinclong, bening dan berkilauan akibat pantulan cahaya lampu. Semua lantai berlapis permadani mewah tiada kotoran menempel. Terpaksa diinjak sepatu saya yang ndeblok ketempelan salju. Sekotor apapun calon anak papah tetap dipersilahkan masuk. Mas-mas berambut klimis, memakai blazer dan berdasi mengantarkan sampai ke depan resepsionis.

Harga tergantung pilihan kamar mulai dari premium cabin, deluxe, junior suite hingga executive suite dan including dinner atau tidak. Buat anak kost cukup yang paling murah yang penting bisa selonjoran dan masak nasi. Perut asli Indonesia gitu loh. Nanti kalau sudah jadi anak papah baru minta kelas teratas dengan fasilitas yang super mewek. Anehnya harga one way lebih mahal daripada round trip. Jadinya beli round trip dan tiket baliknya terpaksa disobek.

Mbak resepsionis memberi kunci kamar nomer 8824 di deck 8 dan password wifi. Wifi disini gratis biarpun kadang-kadang LELET. Kamar dengan dua tempat tidur, yang satu bisa dilipat jadi sofa serta jendela bulat langsung menghadap ke laut. Bisa melihat kapal berlayar diantara tumpukan es. Ada juga meja, lemari, toilet, handuk dan toiletries lengkap persis seperti hotel di darat.

Nah sudah masuk kamar, sebelum masak kita intip dulu yuk sebagus apa hotel berjalan ini dan fasilitas apa saja yang bisa dinikmati. Pokoknya jangan kemana-mana ya gaes scroll ke bawah sampai habis. Kita kelilingin semuanya.

Kalau males antri lift banyak tangga manual. Tangganya aja bling-bling beginiihh...

Kapal MS Baltic Queen mulai beroperasi bulan April 2009. Berkapasitas 2800 orang, 420 mobil dan 75 truk atau trailer. Terdiri dari 12 deck dengan panjang 212 meter. Termasuk kecil dibanding kapal pesiar di lautan Amerika yang tingginya segunung seperti Royal Caribbean yang muat sampai 6000 orang. Ini hanya separonya. Tapi secara kinclong dalamnya mirip-mirip.

Kita mulai ngoprek dari deck 1, yaitu ruangan mesin tempat paling brisik tentunya. Deck 2 tempat tinggal semua staff dan crew cabin lengkap dengan fasilitasnya seperti lounge, bar dan restoran. Disini juga terdapat sauna, bar dan kolam renang untuk dewasa dan anak-anak. Deck 3 dan 4 adalah garasi mobil dan kendaraan lainnya. Parkiran dengan sistem hidrolik. Sementara kamar cabin untuk penumpang berada di deck 5, 8 dan 9.

Lorong ke kamar.

Selain kamar, di deck 5 juga terdapat Hera Salongid (beauty salon), hairdressers dan masseuses (face and body treatment, hair styling and colouring) yang buka selama 24 jam saat kapal beroperasi. Sebelum ke pesta bisa deh dandan menor disini. Terdapat juga conferensi hall dengan kapasitas 450 tempat duduk, Lotte Village / Childrens Playrooms dan Playstation Lounge. Konon saat summer conferensi hall itu akan ditutup sementara untuk disulap menjadi playground juga.

Lotte Village. Nanti cucu papah bisa diajak kesini biar gak bosan.

Games Room.

Playstation Lounge.

Bagi yang punya hobby shopping dan kecantikan di deck 6 terdapat cosmetic boutique, fashion clothing untuk dewasa maupun anak-anak, gadget dan elektronik, supermarket dan duty free tax-free selain menjual makanan juga souvenir, minuman beralkohol, rokok, parfum, kosmetik dan produk skincare. Tersedia juga Gift dan Toys Shop yang menjual berbagai souvenir dan beragam mainan anak-anak. Di berbagai pojok juga tersebar cafe dan bar. Sekilas pandang harga-harganya tidak jauh beda dengan harga di darat. Bisa bayar cash maupun debit.

Shopping Area.

Shopping Area.

Gift and Toys Shop.

Supermarket. Muter-muter disini sampai sejam ngecek harga termurah karena mau ngabisin duit Swedia yang tersisa 19 Krona. Dari pada dibawa pulang ga laku. Masih bisa kebeli 1 juice botolan, apel 2 bijik dan sofe cake kecil rasanya aneh. Harga air mineral lebih mahal daripada beer maupun juice botolan. Sebotol 600ml 50an ribu kalau dirupiahkan. Gile kan dro. Orang bule kalau beli beer sampai dus-dusan entah buat mandi atau apa, eh diminum ding.

Di deck 7 terdapat Fashion Street Boutique yang menjual berbagai produk brand internasional seperti Tommy Hilfiger, Guees, Esprit, Superdry, Marc'O Polo dan Desigual. Selain area shopping di deck 7 ini pusatnya restoran, cafe, bar dan lounge serta entertainment komplek yang menyediakan show lounge dan dance floor. Tinggal pilih mau dinner dimana, Grill House, Buffet Restautant, Alexandra Restaurant, Italian Restaurant, Gourmet Baltic Queen, Starlight Palace Restaurant dan masih banyak lagi.

Show Lounge. Biasanya jadwal show ada di kamar atau di cruise map yang terpampang di pojokan.
Lorong menuju bermacam restoran. Pilih aja papah mau makan dimana? Hayuk. Kalau ada sih pengen Bakso Yayu Gemi.
Piano Bar. Minum kopi sambil dengerin alunan music classic.

Kafetaria. Tempat makan yang include di pembelian tiket.

Sevilla Bar.

Tango Lounge. Banyak tempat nongkrong mah silahkan pilih yang mana.



Merasa bosan di dalam bisa naik ke deck 10 dan 11 yang merupakan outdoor deck. Bisa selonjoran sambil menikmati sepoi angin laut atau bintang di langit saat malam hari. Di deck 10 juga terdapat Ibiza Disco Nightclub bagi yang suka party-party jeb ajeb. Disediakan DJ profesional dan club music jedar jeder. Sedangkan di deck 12 terdapat helipad.

Pantesan ya keluarga papah seneng banget naik beginian, segalanya ada. Mau santai tinggal selonjoran minum kopi di cafe, pengen shopping tinggal ngesot, boring tinggal nonton atau maen games, badan pegel-pegel tinggal pijet ke spa atau sauna, kalau capek balik ke kamar bobok. Pokoknya bebas.

Share:

Mengintip Korea Utara Dari Perbatasan

"Sebelumnya maafin gue ya, jangan lupa nulis surat wasiat sebelum lo pergi atau lo punya permintaan terakhir apa kali aja gue bisa kasih" Itulah celotehan teman-teman 6 tahun yang lalu sebelum saya berangkat ke DMZ di Korea. Seolah saya akan pulang tinggal nama. Karena tempat ini disebut sebagai The World's Most Dangerous Border. Hiyy sereemm... Tapi justru ini menjadi pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan saya ke Korea.

DMZ (Demilitarized Zone) adalah area perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Terletak di Desa Panmunjom, Propinsi Gyeonggi sekitar 53km dari Kota Seoul. Di desa inilah tempat ditandatanganinya perjanjian Gencatan Senjata pada tahun 1953. Wilayah ini merupakan perbatasan yang dijaga paling ketat di dunia karena secara teknis Korea Selatan dan Korea Utara masih berstatus perang hingga sekarang. Jadi tidak heran jika dipenuhi oleh tentara militer, tank baja, ranjau, senapan, dan meriam. Meskipun diperlengkapi dengan armada super lengkap, aktivitas militer di wilayah ini justru dilarang karena merupakan zona damai.

DMZ telah disulap oleh pemerintah Korea Selatan menjadi destinasi wisata namun untuk mengunjunginya harus benar-benar taat pada peraturan yang berlaku. Diantaranya pengunjung diharuskan memakai agen tour berlisensi tidak bisa pergi sendiri secara backpacker, harus membawa paspor, harus berpakaian sopan dan rapi tidak diperkenankan memakai kaos, jeans, sendal jepit dan pakaian yang berbau army. Tidak boleh mengambil gambar dari dalam bus saat bus mulai memasuki area DMZ. Tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.

Jam 08.00 saya dijemput mobil kecil di penginapan. Hanya perjalanan beberapa kilometer diturunkan di sebuah tempat untuk pindah ke bus dan bergabung dengan peserta tour yang lain. Tepat jam 08.15 bus berangkat. Sekitar 1 jam perjalanan tiba di pintu gerbang DMZ dan pemeriksaan ketat dimulai. Beberapa tentara masuk ke dalam bus memeriksa identitas setiap pengunjung. Setelah menunggu sekitar 10 menit bus diperbolehkan bergerak.

Wasiatnya jangan lupa kirim surat Al-Fatihah sama Yasin ya.

Ada beberapa titik yang dapat dikunjungi oleh tour DMZ ini yaitu Imjingak Park, Freedom Bride, DMZ Theatre, The Third Tunnel, Dora Observatory dan Dorasan Station.

Imjingak Park merupakan taman memorial yang dibuat untuk mengenang peristiwa pemisahan Korea menjadi selatan dan utara. Pemerintah Korea Selatan mendirikan monumen menghadap ke utara pada tahun 1985. Di monumen ini terdapat dupa menyala untuk memanjatkan doa bagi arwah nenek moyang mereka yang terbaring di Korea Utara.

Freedom Bridge terletak bersebelahan dengan Imjingak Park. Pada masa Perang Korea digunakan untuk membebaskan 12.773 tahanan perang. Tahanan dibawa menggunakan mobil kemudian menyebrang dengan jalan kaki menuju kebebasan. Itulah sebabnya jembatan ini disebut Freedom Bridge. Di sekitar jembatan terdapat pagar kawat yang banyak digantung pita warna-warni bertulisan perdamaian dan harapan rakyat Korea agar kedua negara ini dapat bersatu kembali.

DMZ Theatre merupakan tempat yang memperlihatkan film dokumenter tentang awal terjadinya perang antara Korea Utara dan Korea Selatan serta keadaan perang pada saat itu. Banyak keluarga yang terpisah dan tidak dapat berkumpul kembali. Selain itu terdapat juga pameran senjata yang dulu digunakan untuk perang.

The Third Tunnel merupakan terowongan ketiga dari 4 yang ditemukan. Dibangun oleh Korea Utara untuk melakukan invasi ke Korea Selatan. Sepanjang 1,6 km dengan kedalaman sekitar 70 meter di bawah tanah. Pengunjung yang akan masuk ke terowongan ini diwajibkan steril dari berbagai benda. Semua barang bawaan harus disimpan di loker dan dilarang keras untuk mengambil gambar. Pengunjung wajib memakai helm safety yang telah disediakan. Ujung terowongan ini ditutup kaca kecil dan masih bisa mengintip Korea Utara. Masuk ke terowongan ini merupakan moment yang paling melelahkan terutama saat kembali keluar karena jalannya menanjak. Apalagi bagi yang punya tinggi badan semampai terpaksa harus membungkukkan badan.

Dora Obsevatory merupakan dek observasi untuk mengamati Korea Utara. Jika dilihat dengan mata telanjang hanya terlihat hamparan perbukitan dengan bangunan yang kecil-kecil. Jika ingin lebih jelas bisa memakai teropong berbayar 500 won selama 5 menit. Akan terlihat pemandangan kota Kijong-dong di Korea Utara. Kota besar yang maju dan sejahtera dipenuhi oleh bangunan dan gedung bertingkat. Namun kota ini sebenarnya tidak berpenghuni dan tidak ada kehidupan sama sekali. Kota ini dibangun oleh pemimpin Korea Utara pada tahun 1950 bertujuan untuk memperlihatkan tingkat kemakmuran warga Korea Utara pada dunia. Disebut juga hanya sebagai alat propaganda. Hingga sekarang masyarakat tidak ada yang mau tinggal disana dan tetap menjadi kota hantu. Terlihat juga bendera Korea Utara dikibarkan menjulang di atas menara setinggi 160 meter. Menara ini dibuat sebagai pembalasan terhadap Korea Selatan yang membangun tiang bendera setinggi 98 meter di dekat DMZ.

Mengambil foto hanya diperbolehkan di belakang garis kuning yang berjarak 5 meter di belakang teropong. Untuk tinggi badan seperti saya sungguh mustahil. Pandangan hanya sampai di kepala pengunjung yang sedang meneropong. Saya sempat naik ke tangga yang menuju ke pintu masuk bangunan Dora Obsevatory ini. Di gedung yang bertulisan "End of Separation, Beginning of Unification". Di dalam banyak tentara duduk di kursi undak-undakan seperti bioskop menghadap ke kaca pembesar yang sangat lebar. Bisa mengamati kota Kijong-dong tanpa menggunakan teropong. Tapi sebentar kemudian saya diusir hahaha... Maap maap.

Kijong-dong. Photo courtesy google.

Tempat terakhir yang dikunjungi tour DMZ ini adalah Dorasan Station. Stasiun yang mempunyai arsitektur modern, megah dan fasilitas lengkap ini sampai sekarang belum beroperasi. Dibangun dengan harapan jika Korea Selatan dan Korea Utara bersatu kembali akan menjadi transportasi dari Seoul ke Pyongyang ibukota Korea Utara. Keretanya pun sudah disediakan. Jarak ke Pyongyang 205 km dari stasiun ini. Tapi saat ini untuk ke Pyongyang harus berputar jauh lewat Beijing. Konon satu-satunya penerbangan yang melayani ke Korea Utara hanya dari Beijing. Semoga saja kedua negara bersaudara ini segera bersatu kembali agar bangunan megah ini dapat difungsikan sebagaimana yang diinginkan.

Sebenarnya masih ada lagi tempat terpenting di DMZ yaitu Panmunjom, merupakan garis terdepan yang menjadi satu-satunya pertukaran informasi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Disini terdapat Joint Security Area (JSA) merupakan lokasi tempat dilaksanakannya berbagai negosiasi diantara kedua negara ini. Namun sayang saat itu saya tidak mengambil tour ini karena terlalu memikirkan celotehan teman-teman. "Hati-hati pergi kesana bahaya harus tanda tangan perjanjian, bisa tiba-tiba terjadi suasana menegangkan, harus siap mati". Halah. Padahal kalau sudah dijalani tidak seseram yang dibayangkan. Ya sudahlah semoga nanti bisa kesana lagi. Mau ikut gak?

Share:

Berdebar Di Imigrasi Bandara

Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 
Share:

Anak Kost Di Kapal Pesiar

Jam 22.00 waktu Tromso saya dan Amel pamit dari hotel. Smart Hotel Tromso. Setelah seharian titip koper dan numpang ngemper di lobby.

"Jam berapa kapal kalian?" tanya mbak resepsionis.
"Jam 01.30 mbak"
"Mending tunggu disini aja, jalan kesitu hanya 10 menit"
"Kata website jam 23.00 sudah bisa check in"
"Ya udah sejam lagi aja kalian kesana, diluar dingin"
"Gak apa-apa mbak kita nunggu disana aja"

Maklum takut telat. Takut proses check in nya lama. Mending menunggu di pelabuhan biar tenang. Suhu di luar minus 14 derajad. Tapi lumayan bersahabat tidak berangin dan tidak hujan salju. Salju sisa hujan seharian masih menumpuk di segala tempat. Menghalangi roda koper berputar sehingga semakin berat untuk digeret.

Sampai di pelabuhan, petunjuknya mengarahkan ke tempat terbuka di pinggir pantai. Tidak ada ruang tunggu maupun kantor. Tidak ada bangunan apapun hanya pelataran dibeton. Tidak ada pula kapal yang bersandar. "Lha trus ruang tunggunya dimana? Mosok kapal pesiar gak punya ruang tunggu, kalah dengan kapal roro di Merak" Tanya kemana ya? Entahlah tidak ada orang. Sepiiii...

Ditengah kebingungan, tiba-tiba angin datang disertai butiran salju turun dari langit. Semakin lama semakin lebat dan menghalangi jarak pandang. Dinginnya menusuk tulang. Badan membeku, menggigil, hidung meler dan pusing. Coba ya tadi dengarkan saran mbak resepsionis pasti tak akan jadi gembel begini. Pertama naik kapal pesiar pakai drama keleleran bok.

Amel sebelumnya pernah pelesiran dengan orang tuanya dari Singapura ke Thailand naik kapal pesiar. Menurutnya tidak ada acara membingungkan. Seperti biasa masuk ke pelabuhan, check in, menunggu di lounge mewah lalu naik ke kapal. Ya seperti difilm-film gitu deh.

Hujan salju semakin lebat. Bergumpal-gumpal. Nyelip diantara lipatan jaket, syal dan cupluk. Ajegile maaaakkk dinginnyaaaa...!! Satu-satunya tempat yang bisa dipakai berteduh hanya teras Hotel Scandic. Tidak jauh dari pelabuhan. Kami berteduh disana ternyata tetap tidak bisa melawan angin salju yang berhembus dari segala arah. Berlindung di balik tembok tetap dikejar salju. Tangan dan muka perih semua. Sadis.

Kami masuk ke lorong antara pintu masuk dan pintu lobby hotel. Lumayan bisa berlindung dari angin walaupun tidak terlalu hangat. Koper ditinggal di luar. Percaya tidak akan diambil orang. Norwegia negara aman negara kaya mana mau koper butut begitu.

Amel mencoba bertanya ke resepsionis, memastikan tempat untuk menunggu kapal. Jangan-jangan kami salah. Jangan-jangan kapalnya batal berangkat. Kenapa sudah sejam lewat belum juga ada penampakan. Kata mas resepsionis memang benar tempat tunggunya di depan Hotel Scandic. Tunggu saja kapalnya belum datang. Biasanya sudah datang tapi tampaknya telat.

Beberapa kali saya mengecek ke pinggir pantai belum juga ada penampakan. Hujan salju masih belum berhenti. Sekitar jam 00.30 barulah terlihat ada kapal besar menepi. Lampunya gemerlapan bagaikan gedung tinggi mengambang tengah laut. Semakin mendekat ke pelabuhan terbaca tulisan di bawahnya HURTIGRUTEN - MS Vesteralen. Ya, itulah kapal yang kami tunggu-tunggu, yang membuat kami bermandikan salju ditengah malam.

Hurtigruten adalah perusahaan kapal pesiar Norwegia yang melayani rute pantai barat dan utara Norwegia antara Bergen sampai kota yang berbatasan dengan Rusia yaitu Kirkenes. Lama perjalanan 12 hari pulang pergi. Kami tidak mengambil penuh rute ini hanya dari Tromso ke Svolvaer dengan lama perjalanan 17 jam. Selain di Norwegia, Hurtigruten juga mengoperasikan kapal pesiar di area lain seperti Greenland, Kanada, Amerika Selatan, Islandia, Svalbard dan Antartika.

Kapal semakin menepi hujan salju semakin lebat. Antrian penumpang mulai berderet tak mempedulikan serbuk es mulai menutupi Kota Tromso. Sering kali harus menggerakkan badan melawan dingin dan mengibaskan es yang menumpuk di badan.

Pintu di lambung kapal mulai dibuka. Setelah mendahulukan penumpang yang turun kami dipersilahkan naik ke kapal lalu antri check in di dalam. Amel menyodorkan tiket ditukar dengan kunci kamar mirip atm bertulisan nama kami dan kota tujuan. Kamar berada di lantai 4 nomer 428 di ujung lumayan jauh. Semua lantai dilapisi karpet seperti hotel berbintang.

Banyak fasilitas di kapal ini seperti sauna, lounge, tempat pertunjukan, souvenir shop, cafe dan restoran. Tidak ada yang ingin saya lakukan malam itu selain tidur dan tidur. Tak lupa mengaktifkan radio supaya terdengar pengumuman jika tiba-tiba muncul Aurora Borealis. Walaupun rasanya mustahil karena cuaca tidak cerah. Tapi ya siapa tau terjadi keajaiban. Sensasi naik kapal pesiar di daerah kutub saat musim dingin salah satunya melihat Aurora di malam hari. Orang bule menyebutnya Northen of Lights.

Pagi hari saya terbangun 30 menit sebelum alarm subuh berbunyi. Mata langsung kinclong biarpun baru tidur 2 jam. Masih merasakan efek jetlag. Selama di Scandinavia mata saya tetap terbiasa dengan jam di Indonesia. Masih sore sudah ngantuk, dini hari kinclong mencorong. Sedangkan Amel sudah terbiasa karena beberapa bulan terakhir sering berada di Eropa. Pagi itu masih pulas di dalam selimutnya tidak terusik dengan suara grusak grusuk saya yang sedang siap-siap sholat subuh.

Selesai subuh saya merebus air membuat minuman jahe dan mengisi termosnya Amel. Lalu masak ala anak kost, bihun rebus bekal dari Indonesia yang baunya bisa membangunkan Amel. Sisa air panas dipakai Amel untuk menyeduh bubur instant. Biarpun dapat jatah breakfast di restoran tapi bekal makanan tetap harus dimasak. Selain buat ganjel juga agar mengurangi bawaan. Sekalian untuk makan siang saya memasak nasi liwet dengan bahan seadanya, dicampur teri dan bawang putih ditambah sedikit garam. Lauk masih punya abon dan kering kentang, nanti bisa cari tambahan saat breakfast di restoran kata Amel bisa dibungkus. Perut Indonesia kalau belum makan nasi artinya belum makan.

Lihat Sunrise sebelum breakfast, dikira pakai jaket seadanya cukup ternyata harus didouble.

Breakfast menyediakan beragam menu. Kebarat-baratan semua tentunya dan tidak ada nasi. Saya mengambil jus buah, croisant, sereal, telur rebus, salad sayur dan sarden bermacam-macam ikan. Rasanya mirip sarden kalengan tapi lebih enak. Anak kost sudah menyiapkan tupperware buat ngebungkus. Tapi noleh ke kanan-kiri kok gak enak, gak jadi deh hahaha... Tapi pelan-pelan bisa mengantongi 3 telur rebus dan jeruk. Selagi perut masih muat dicoba semua sampai sekenyang-kenyangnya.

View sepanjang jalan "Gunung Digulain".
 
Penumpangnya oppa oppa dan omma omma semua, jarang ada brondong.

Selesai breakfast keliling melihat isi kapal. Kapal MS Verteralen diluncurkan tahun 1983 dengan panjang 108 meter, bisa mengangkut 510 penumpang. Kapal milik Hurtigruten memang tidak terlalu besar dibanding dengan kapal yang saya naiki setelahnya, dari Stockholm ke Estonia dan dari Estonia ke Helsinki yaitu Tallink-Silja Line. Nanti ya di cerita berikutnya. Fasilitas di dalamnya juga tidak selengkap Tallink Silja karena lebih mengutamakan view di luar daripada kegiatan di dalam kapal. Pertunjukan utama di Hurtigruten adalah menikmati pemandangan alam dari balik kaca yaitu fjord adalah semacam teluk yang berasal dari lelehan gletser, gunung es dan rumah berwarna-warni khas Scandinavia. Perjalanan ini bahkan disebut-sebut sebagai "The World's Most Beautiful Sea Voyage".

Kapal ini akan berhenti di beberapa tempat. Salah satunya adalah di Storkmarknes kota kecil yang berselimut salju seperti di negeri dongeng. Penumpang diberi waktu 1 jam untuk mengunjungi Museum Hurtigruten. Di sini, Kapten Richard With mendirikan Perusahaan Hurtigruten pada tahun 1893 dan kapal pertama disebut MS Vesteralen, di mana saat ini kami berlayar pada generasi ke-4. Selain museum juga dapat mengunjungi kapal MS Finnmarken yang dibangun pada tahun 1956.

Keluar masuk kapal wajib menunjukkan kartu dan discan oleh petugas. Selanjutkan kami banyak menghabiskan waktu di deck depan dengan view yang kurang lebih masih sama "Gunung Digulain". Disini waktu terasa sangat lambat. Mata dari mulai seger, ngantuk, kinclong, ngantuk lagi masih dengan pemandangan yang sama. Memang indah sekali, negeri dongeng berselimut salju yang selama ini hanya lihat di film sekarang bisa dinikmati sejauh mata memandang. Sampai sampai timbul rasa ingin segera turun. Tak tahan juga akhirnya tanya ke Amel yang sedang mengutak-atik hpnya.

"Mel lo jenuh gak sih?"
"Jenuh gw pengen cepetan turun"

Sudah ketebak. Saya dan Amel punya hobby yang hampir sama suka jalan serampangan kemana saja dan tidak betah diam di tempat. Diam di kapal seharian yang kemana-mana mentok berasa mati gaya sampai garing njengking. Beruntung sinyal masih okey hanya sesekali tersendat saat kapal menjauh ke tengah. Wifi disini bayar 50 NOK 12 jam, daripada bengong ya terpaksa beli. Kebayanglah gimana jika ikut paket one-way 6 hari atau round-trip 12 hari. Ikut yang 17 jam aja berasa laaama sekali. Alhamdulillah sudah lebih dari puas...

Share:

Popular Posts

I HAVE BEEN

Recent Posts

ALLAH IS THE GREATEST

Allah's plan is always more beautiful than our desire.

GOING ARROUND

DEAR MY STALKER

Hello dear how are you? I am doing fine. Thank you for checking up on me.

DEAR MY BEST FRIEND

Thank you for making everything better. Thank you for inspiring me. Thank you for being my confidant. You never judged me for being vulnerable.