Nov 17, 2014

Pengalaman Pertama Membuat Visa

Rencana jalan-jalan ke Bangkok yang sekian lama diulak-ulik akhirnya dilupakan begitu saja setelah mendapat kabar dari seorang travel writer yang sedang mengadakan trip bareng ke Korea. Awalnya pendaftaran trip ini telah ditutup karena penuh kuota tapi tiba-tiba dibuka kembali mungkin ada beberapa peserta yang batal atau memang menambah kuota lagi. Yang pasti setelah iseng daftar saya dipanggil.

Maksudnya trip bareng disini bukan seperti agen perjalanan yang akan mengurus segalanya dan kita tinggal duduk manis nyampe tujuan, tapi hanya jalan bareng pas di Korea saja. Meeting point di Bandara lncheon Seoul. Jadi segala urusan kepergian harus mengurus sendiri-sendiri seperti membeli tiket pesawat dan membuat visa.

Untuk pembelian tiket pesawat bisa dibantu oleh pihak travel writer tapi harus grup minimal 10 orang sedangkan waktu itu saya belum kenal siapa-siapa dan tanggal keberangkatannya juga tinggal sebulan lagi sepertinya para peserta yang lain sudah beres semua tinggal berangkat. Akhirnya saya membeli tiket sendiri.

Untuk membuat visa pihak travel writer juga menunjuk salah satu agen yang bisa membantu mengurus ke kedutaan pastinya dengan harga yang lebih mahal dibanding mengurus sendiri. Belum lagi penyerahan berkas-berkasnya harus nganterin ke Jakarta juga. Bisa lewat pos tapi kok khawatir. Jadi sama-sama ke Jakarta mending urus sendiri sekalian belajar kalau ga, ya kapan bisanya.

Kesibukan dimulai, diawali dengan mengumpulkan berbagai informasi dari google mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan serta membaca testimoni orang pada saat apply ke kedutaan. Ada yang ditolak, ada yang langsung diapprove, ada yang harus bolak balik karena persyaratan ga lengkap waoow makin banyak browsing makin jiper sendiri.

Mengenai jenis visa, persyaratan dokumen dan formulir aplikasi bisa dilihat dan didownload di situs ini Kedutaan Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia. Pelan-pelan saya kumpulkan semua dokumen diantaranya pas photo, paspor asli dan fotocopy paspor, fotocopy KTP, fotocopy akte kelahiran, fotocopy NPWP, surat keterangan kerja, tiket pesawat, rekening koran tabungan 3 bulan terakhir dan itinerary selama di Korea.

Pas photo katanya harus yang terbaru, harus close up, harus jelas dan background putih maka saya niat bikin yang bagus ke studio photo (biasanya suka selfie sendiri trus dicetak). Sambil menunggu foto saya ke bank membuat rekening koran. Katanya semakin banyak tabungan semakin bagus tapi kalau tiba-tiba banyak ya malah mencurigakan. Menurut info paling tidak harus punya seharga tiket pulang pergi dan biaya hidup di negara yang dituju selama 3 hari. Tiket PP Jakarta-Korea harga standar antara 5-8jt. Setelah dapet selembar rekening koran barulah saya ambil uang untuk beli tiket dan keperluan yang lainnya. Jadi diprint dulu baru diambil uangnya. 

Berhubung tidak punya kartu kredit saya beli tiket lewat agen dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding beli langsung lewat website airlines. Nyeseg sih tapi yo wes lah, pengalaman itu kadang memang mahal (menghibur diri).

Untuk surat keterangan kerja saya tinggal meminta ke bagian SDM tapi kali ini harus yang berbahasa Inggris. Nah lo... Saya waktu itu bener-bener buta seperti apa formatnya. Browsing kesana kemari rasanya ga nemu yang pas. Akhirnya saya translet sendiri dengan bantuan kamus. Setelah itu saya minta tolong dibuatkan ke staf SDM. Saya sempat diinterogasi mau keluar kerja, mau kerja di luar negeri, mau sekolah di luar negeri? Bukan pak hanya jalan-jalan abis itu pulang dan kerja lagi suerrr....

Semua sudah beres tinggal itinerary selama di Korea karena saya ikut acaranya travel writer berarti harus meminta itinerary ke beliau. Dua hari email saya ga dibales-bales. Waktu itu hari Kamis adalah hari terakhir pengajuan aplikasi visa. Setelah itu Kedutaan akan libur lebaran selama 2 minggu dan 12 hari setelah lebaran akan berangkat. Cukupkah mengurus visa setelah lebaran? Bisa aja sih tapi kalau lancar, kalau ga gimana? Gigit kuping. Membayangkannya badan lemes. Saya tinggal punya waktu sehari lagi menunggu balesan email, komunikasi memang hanya bisa lewat email karena beliau tidak memberikan nomer telepon. Please mbaaak bales email sayaaa... (antara sebel, memelas dan sedih). Jurus terakhir saya tulis pesan di timeline facebooknya "Mbak saya kirim email tolong dibuka ya" dan saya pun tertidur di dalam kepasrahan.

Dini hari sambil makan sahur saya coba membuka email dan ternyata ada balesan. Horeee.... Gitu donk mbak jangan bikin khawatir orang. Langsung saya print dan disatukan dengan dokumen lainnya. Pagi itu setelah subuh saya siap-siap menuju ke Jakarta. Pengajuan aplikasi visa antara jam 09.00-12.00 sedangkan untuk pengambilan visa jam 13.30-16.30. Menurut saran beberapa orang di google lebih baik datang lebih awal agar tidak keduluan dengan travel-travel agen yang biasanya mengajukan seransel berkas untuk visa. Jadi ga kelamaan antri. Awalnya agak ragu dengan alamat Kedutaan Korea setau saya di Jalan Gatot Subroto tapi kenapa banyak yang bilang di The Plaza Jalan Thamrin. Setelah googling-googling lagi rupanya kantor yang di Jalan Gatot Subroto sedang direnovasi.

Jam 09.30 saya sampai di The Plaza saya sempat bingung mau masuk ke lift kok semua orang pegang kartu trus discan dipalang pintu sebelum pintu lift. Rupanya harus registrasi dulu diresepsionis, maklum ya wong ndeso belum pernah masuk ke perkantoran elit. Setelah memberikan KTP barulah saya dikasih kartu visitor dan bisa masuk ke lift. Lift terbuka tepat di lantai 30. Di depan pintu lift ada bapak security yang mengarahkan saya ke pintu tempat aplikasi visa. Bapak securitynya guaanteng bokk walaupun sudah ubanan. Gimana mudanya ya... Jadi salah fokus kan. 

Di dalam ruangan yang tidak begitu besar itu hanya ada beberapa orang. Di pinggir pintu ada pak polisi yang mengarahkan untuk mengambil nomer antrian. Di depan loket ada satu orang yang saya curi-curi dengar katanya bapak dokter dan pengajuan aplikasi visanya belum diterima karena dokumen belum lengkap. Deg!! Pak dokter aja disuruh balik lagi gimana saya... Saya tunda dulu ambil nomer antrian dan baca lagi papan pengumuman sambil mencocokkan dokumen-dokumen saya. Setelah saya rasa cukup lalu pencet nomer antrian, eh belum sampai duduk ternyata langsung dipanggil. Saya serahkan map yang berisi semua dokumen. Pertama kali paspor saya dibuka-buka untung ga kosong banget sudah ada 2 visa arab, stempel Singapura dan Malaysia. Katanya story di paspor pengaruh juga. Kemudian dilihat lagi dokumen-dokumen yang lain dan tiket pesawatnya dikembalikan lagi "Ini tidak usah" lho... Katanya tiket pesawat yang paling ditanyakan, tau gitu belinya ntar aja nunggu harganya turun. Setelah itu disuruh membayar Rp 285.000 untuk visa single entry dan diberi kwitansi yang harus dibawa untuk mengambil paspornya nanti. Tahap pertama lolos tinggal menunggu visa diapprove apa ditolak.
 


Saya duduk sebentar menarik nafas lega ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Masih belum banyak orang yang datang hanya ada 3 anak abege brisik tapi masih sibuk mengisi formulir dan 1 orang Korea yang ngobrol dengan staf di loket khusus orang Korea. Kedengerannya seperti di film-film. Saya lihat bajunya letbong dan pakai sendal. Jadi mikir tau gitu ga usah pakai sepatu pantopel dan kemeja seperti mau ngelamar kerja. Maklum dengar kata kedutaan aja rasanya pengen pingsan saya pikir mau masuk harus dandan serapi mungkin. Oke lah ga masalah bersyukur dokumen saya langsung diterima.

Hari ke-5 lebaran kalau tidak salah (lupa) soalnya jalanan di Jakarta masih belum ramai, saya kembali ke kedutaan untuk mengambil paspor. Menurut info di google bisa nanya lewat telpon dulu tapi kok takut ya mending datang langsung aja. Dengan jalanan di Jakarta yang masih ngeblong saya datang terlalu cepat masih jam 11.45 padahal pengambilan visa jam 13.30. Untuk membunuh waktu saya sholat dzuhur dulu ke Plaza Indonesia berlanjut muter-muter sekedar mencuci mata. Alhasil kartu debit saya tergesek ditukar dengan beberapa potong baju.

Jam 13.00 saya sudah bosan berada di mall. Saya berniat masuk ke kedutaan dan akan menunggu di sana sampai loket dibuka. Ternyata sampai di dalam langsung dipersilahkan ke loket dan ditanya kwitansi. Beberapa saat kemudian saya dikasih paspor yang telah ditempel visa Korea. Alhamdulillah...

Seakan ga percaya karena bedak belum juga luntur dan parfum masih wangi. Dari sejak mengajukan aplikasi dan pengambilan visa prosesnya ga ada 5 menit. Alhamdulillah ga ada antri-antrinya. Membaca blog orang katanya sambil antri sampe sempet foto-foto, ini mau bertingkah sedikit aja rasanya ga enak karena suasananya sepi banget. Padahal saya pengen tanya-tanya tentang Korea karena memang belum tau banyak. Film yang pernah saya tonton kalau dihitung pakai jari tangan kanan masih nyisa. Yang saya inget hanya Full House, Thank You dan Greatest Love tapi ga nonton sampai habis. Artis yang saya tau hanya Rain dan Song Hye Gyo pemain Full House selain itu bener-bener blanck tentang Korea. Berharap akan tau nanti setelah pulang dari sana. Dan inilah penampakan visa Korea saya :)


Annyeong Haseyo... Sarange... Mari kita ke Korea...

No comments:

Post a Comment

Tolong jangan spaming ya Kisanak. Kasih masukan agar saya banyak belajar lagi. Semoga kita semua dimanapun berada selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiinn... Tengkyu yaa... Pokoknya mah betapa ku cinta padamu deh. Salam Hormat High Quality Gombel.