Sep 10, 2015

Perjalanan Ke Chiang Rai - Bertemu Tante Berwajah Horor

September 10, 2015 0 Comments
Jam 08.30 pagi udara di Chiang Mai masih dingin dan sedikit berkabut. Saya check out dari penginapan. Pemilik penginapan belum bangun dan harus digedor oleh pembantunya. Lalu mencari songthaew (angkot) untuk mengantarkan ke terminal dengan ongkos 80 THB. Songthaew di sana sepertinya tergantung permintaan, tidak ada trayek seperti angkot disini karena sampai di terminal penumpangnya saya sendiri.

Saya berangkat dua jam sebelum jam keberangkatan bus ke Chiang Rai untuk berjaga-jaga barang kali perjalanan ke terminal kurang lancar. Ternyata kurang dari 20 menit sudah sampai artinya harus menunggu 1 jam 40 menit lagi. Tiket beli sehari sebelumnya. Taunya hanya Green Bus yang berangkat tiap jam sekali dan beli untuk jam 10.30 agar tidak terburu-buru karena khawatir paginya males bangun. Namun sepertinya banyak juga armada bus yang lain.

Penampakan tiket

Saya coba ke counter tiket minta pindah ke bus yang berangkat lebih cepat. Ternyata full. Jadilah harus menunggu sambil kedinginan di dekat platform tempat bus akan parkir. Beberapa kali diajak ngobrol menggunakan bahasa Thailand termasuk dengan para staf bus, dikira saya asli Thailand. Malah ada seorang ibu ceriwis banget "Kha khu hengheng ngek ngoook" sudah bilang "Sorry l can't speak Thai" tetep tidak mau diam. Sepertinya tanya sesuatu lama-lama berubah muka jadi bete karena saya hanya senyum tidak menjawab apa-apa. Setelah dijelaskan oleh salah satu orang disitu dengan bahasa Thailand barulah ketawa.

Penumpang bus ke Chiang Rai sebagian orang lokal dan sebagian lagi bule berambut pirang. Beberapa kali say hello katanya dari Maroko, Rusia, England, Spanyol dan tidak tau dari mana lagi. Sepertinya yang dari lndonesia saya sendiri. Sempat ngobrol asyik dengan mas ganteng dari Maroko yang sama-sama belum tau banyak tentang Chiang Rai tapi sayang busnya berangkat duluan. Dia mencoba memastikan lagi ke staf bus barang kali saya bisa pindah, ternyata bener bener full. Terpaksa deh say good bye ama yayang eits...

Penampakan Green Bus

Beberapa saat kemudian bus datang, saya dan penumpang lainnya gantian masuk. Saya duduk bersebelahan dengan ibu dari Rusia mungkin hampir seusia dengan ibu saya, bernama Victoria yang berprofesi sebagai guru matematika. Beliau bersama suaminya tapi di kursi sebelah. Kami ngobrol dengan bahasa lnggris campur bahasa tarzan karena bahasa lnggris ibu lebih kacrut dari pada saya.

Busnya nyaman sekali seat 2-2, tempat duduk dan sandaran kakinya luas. Sebelum berangkat dibagikan air mineral dan snack (hanya wafer sih). Jalanan di Thailand lebar halus dan jarang sekali ada lubang, walaupun naik turun belok belok tapi tidak berasa goyang. Pemandangan di kanan kiri jalan dipenuhi dengan hutan dan kadang-kadang ada segerombol perkampungan. Karena capek ngobrol dengan bahasa tarzan saya pun pura-pura tidur dan akhirnya tidur beneran.

Setengah perjalanan bus berhenti di rest area yang sederhana sekali. Penumpang bisa turun membeli makan atau ke toilet. Saya dan mbak bule berambut pirang bingung mencari toilet karena tulisannya keriting semua. Ternyata ada di belakang toko, bayar 3 THB. Suasananya mirip seperti kampung di Jawa hanya beda bahasa.

Selesai istirahat bus kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalannya banyak berbukit mirip tol cipularang km 90an ke atas sehingga ada beberapa penumpang yang terdengar hoek hoek mabok. Saya jadi ikut-ikutan pusing, tapi syukurlah tidak sampai mual.

Berapa lama kemudian bus memasuki kota Chiang Rai dan berhenti di sebuah terminal. Saya dan ibu sebelah sempat bingung sudah sampai terminal tapi kok penumpang belum disuruh turun. Untunglah mbak bule berambut pirang tanya ke sopirnya "Chiang Rai?" Katanya baru sampai di terminal 2 sedangkan kita akan diturunkan di terminal 1. Baiklah saya nurut saja. Kira-kira 5 kilometer lagi bus sampai di terminal 1. Total perjalanan mulai berangkat dari Chiang Mai memakan waktu  4 jam, lebih lama 1 jam dari yang dikatakan kebanyakan orang. Ternyata kota Chiang Rai kecil sekali tapi walaupun kecil sepertinya segalanya jauh lebih maju dibanding Pacitan. Ya iyalaah...

Begitu turun dari bus langsung diserbu oleh sopir tuk tuk padahal rencana mau jalan ke belakang terminal yang katanya banyak penginapan. Jadinya melipir mendekati mas bule 2 orang yang sama-sama gendong ransel. Katanya dari Spanyol dan belum dapet penginapan juga. Akhirnya saya bergabung dengan mereka. Dapatlah guesthouse 200 THB/malam kira-kira setengah kilometer di belakang terminal.

Rumah agak tua berhalaman luas, cat pintu dan jendelanya dominan warna hitam abu abu jadi serasa seram-seram gimana gitu. Ditambah lagi resepsionisnya tante cantik chinnese berdandan menor tidak banyak omong, tidak banyak senyum tatapan matanya dalam dan tajam, setajam silet. Busyet dah rasanya horor jangan-jangan tante ini vampir. Bajunya mirip dengan teman-temannya Bella di film Breaking Dawn yaitu jaket yang lehernya bulu bulu menjuntai ke bawah dengan motif totol macan. Rambutnya sebahu ikal di blow rapi. Cantik seperti selebritis tapi sepertinya ada yang salah dengan wajahnya.

Pojok wifi di penginapan. Disini sinyalnya kenceng kalau dari dalam kamar keong banget bahkan tidak bisa. Kamar saya dari pohon kelapa belok kanan lurus ke bawah.
 
Lalu saya diantar oleh tante berwajah horor ke kamar yang di rumah belakang, mas bule dapet kamar di depan yang masih serumah dengan resepsionis. Kamarnya lumayan luas karena memang untuk 2 orang, bersih walaupun perabotannya sudah terlihat usang. Kasurnya dari kapuk tengahnya melengkung seperti perahu dan spreinya kekecilan jadi semakin melengkung. Mirip kasur dikost saya dari masa ke masa (sekarang udah springbed ya walaupun per'nya suka nusuk-nusuk punggung). 

Maklum 200 THB semalam masih lebih murah dan nyaman dibanding kamar dorm. Kamar mandinya luas bersih dan dilengkapi dengan air panas, nah ini penting sekali karena Chiang Rai dingiiin banget. Biar begitu adanya tapi saya betah, seandainya suatu saat berkesempatan ke Chiang Rai lagi bolehlah balik lagi karena suasananya yang rumah banget serasa menginap di rumah saudara. Penasaran juga dengan tante berwajah horor, sudah ganti jaket belum ya karena selama saya disana baju dan jaketnya tidak pernah ganti hahaha...

Aug 19, 2015

Emang Saya Ibumu?

August 19, 2015 6 Comments
Begitu menginjakkan kaki di Ninoy Aquino International Airport saya merasa aneh dengan orang-orang Filipina yang memanggil saya. Serasa telinga ini diutak utek pakai sapu ijuk. Sampai-sampai males ngobrol dengan orang selain memang ga bisa bahasa tagalog juga sih (bahasa Inggris juga kalee). Mungkin ini yang dinamakan gegar budaya atau bahasa sononya disebut culture shock. Atau mungkin karena saya termasuk golongan menolak tua.

Di mulai dari ibu-ibu petugas x-ray di pintu keluar. "Please, put your bag here mam". Apa maksudnya panggil-panggil mam? Mam tuh mommy apa gimana ya? Emang saya udah emak-emak banget gitu...? Sak ser mu lah! Tanpa memperpanjang masalah saya letakkan ransel dan daypack di conveyor belt kecil yang tersambung dengan box x-ray di depannya. Kemudian saya gendong lagi setelah badan saya di cek pakai metal detektor dan tas-tas saya dinyatakan aman, so pasti aman karena hanya berisi baju dan mie instant doank.

Karena belum punya uang peso saya bermaksud mencari money changer yang menurut penjelasan di google, rate money changer di airport lebih bagus dari pada di kota Manila. Saya nanya ke pusat informasi sekalian meminta peta.
"Hello..." sapa saya pada salah satu petugas.
"Hello, may I help you mam?"
Aih manggil mam lagi, emang saya istri bapak...

Setelah diberi selembar peta besar dilipat-lipat saya melangkahkan kaki menuju ke money changer yang berderet setelah pintu keluar. Saya pilih salah satu diantaranya yang ratenya tertinggi, lumayan beda-beda 20 peso. Saya sodorkan selembar USD ke petugasnya melalui lobang kecil yang hanya cukup untuk meletakkan uang. Kemudian saya diberi beberapa lembar uang peso dengan berbagai pecahan. Sambil melempar senyum manisnya petugas itu mengucapkan terima kasih. "Thank you mam" Haaishh bilang mam lagi... kebalik kali harusnya saya yang panggil tante mam...

Mamam lagi di Ninoy Aquino International Airport

Akses dari Ninoy Aquino Airport menuju ke kota Manila hanya bisa menggunakan taksi dan beberapa bus tapi saya tidak tau rutenya. Belum tersedia MRT seperti di negara-negara maju, masih 11 12 dengan Soekarno Hatta. Taksi katanya tidak begitu mahal karena jarak ke kota tidak terlalu jauh, hanya saja harus berhati-hati karena banyak taksi gelap. Banyak sekali cerita nyeseg tentang taksi di Manila. Saya mencoba cari jalan lain agar tidak sampai naik taksi. Saya keluar dari area airport untuk mencari jeepney (semacam angkot kalau di Jakarta). Menurut petunjuk dari google setelah pintu keluar ke kiri jalan lurus sampai ke ujung parkiran. Ada beberapa orang yang berlalu lalang ke arah itu saya coba mengikutinya. Di tengah jalan beberapa kali saya dihadang oleh sopir taksi. "Taksi mam... Taksi mam..." Eh busyet dah... Ga bakalan naik, udah mah ga bisa dipercaya panggil-panggil mam lagi... Ogahlah pap mamam mo jalan kaki ajah...

Benar saja sampai di ujung parkiran tampak jeepney yang mangkal bertuliskan Nichol - EDSA MRT - Baclaran. Sebelum naik angkutan unik itu saya pastikan dulu ke sopirnya apakah benar lewat EDSA MRT? Karena saya akan turun disana kemudian lanjut naik MRT ke daerah Makati, tempat saya akan menginap. Di dalam jeepney baru ada 3 orang. Sebelumnya saya browsing cara membayar ongkos jeepney yaitu secara estafet dengan penumpang sebelah, karena posisi saya di belakang sopir maka harus siap menjadi pembantu pak sopir. Yaitu menerima uang dari penumpang diberikan ke pak sopir dan kembalian dari pak sopir diberikan ke penumpang. Kalau mau nguntit uangnya langsung disakuin aja hehehe... Yang masih bingung kapan bayarnya? Setelah duduk di dalam jeepney saya diem aja sambil memperhatikan stiker tulisan yang banyak ditempel di dinding dalam bahasa tagalog, salah satunya mungkin artinya begini "Tuhan tahu jika anda tidak bayar".

Tak berapa lama kemudian ada penumpang naik dan langsung memberikan ongkosnya "Bayad Po" saya bantu memberikannya, hampir sama seperti di Indonesia "Bayar Pak". Nah baru tahu ternyata begitu duduk langsung bayar. Saya pun ikut memberikan uang kertas 20 peso, biarpun tau ongkosnya hanya 8 peso tapi takut kurang biar saja dikembalikan berapa. Dan ternyata dikembalikan 12 peso. Baru tau juga ternyata jauh dekat ongkosnya sama 8 peso atau sekitar 2500 rupiah. Murah banget, lebih mahal ongkos angkot di Indonesia.

Ini dia si mungil Jeepney

Semakin lama jeepney penuh dan mulai bergerak menjauhi airport. Banyak petugas airport yang hendak pulang kerja, kelihatan dari label di seragamnya. Mereka semua ngobrol dengan bahasa tagalog, saya sama sekali ga ngerti. Mbak-mbak di sebelah sering terdengar seperti mengatakan "EDSA EDSA" saya pikir mungkin akan turun di EDSA MRT, lumayan bisa diikuti karena saya tidak tau dimana letak maupun ciri-ciri EDSA MRT. Demi keamanan saya mengurangi bertanya ke kanan kiri agar tidak ketahuan bahwa saya orang asing. Secara fisik dan penampilan orang Filipina dan Indonesia sama banget, 10 11 lah. Nah akan kelihatan dari percakapannya.

Jalanan di kota Manila sama kacrutnya seperti di Jakarta. Jakarta sepertinya lebih mending. Motor, mobil, jeepney dan bus umpel-umpelan jadi satu dan menimbulkan kemacetan. Yang sama lagi, ada pengamen anak kecil berbaju kucel sambil nyodorin amplop, ada pedagang asongan trus sopir jeepney beli rokok 2 batang, ini sama banget kya sopir angkot di Indonesia. Ga terasa suasana di luar negeri rasanya seperti di daerah Pasar Senen atau Tanah Abang. Pengen sih mengabadikan setiap moment, tapi takut ngeluarin kamera. Kalung kamera di daerah kya gitu sepertinya cari apes. Denger-denger di Filipina kalau jeprat jepret bisa tiba-tiba dipepet orang trus dimintai duit. Hiyyy... Emang iya, entahlah... Demi keamanan ya ga usah neko-neko.

Masih di jalan kecil diantara kemacetan dan belum tampak tanda-tanda seperti stasiun. Tiba-tiba mbak di sebelah bilang "Para" artinya mau turun. Lah berarti ga turun di stasiun EDSA donk, waduh tiwas tak enteni... Trus piye?

Jeepney melanjutkan perjalanan semakin memasuki daerah perkotaan. Penumpang naik turun silih berganti. Saya jadi deg-degan takut terlewat. Saya mengintip keluar ke samping kanan dan kiri mencari stasiun yang ada malah semakin bingung. Lalu saya beranikan diri bertanya ke mas penumpang di sebelah.
"Bro EDSA MRT udah lewat belum?"
"Not yet, if arrive there I tell you mam"
"Thank you" mam mem mam mem emang gue emak lo...

Ternyata mas-mas itu turun di EDSA MRT juga sehingga saya diantar sampai di depan pintu masuk. Daerah ini bernama metro point mall yang mana di dalamnya ada 2 stasiun yaitu EDSA untuk LRT dan Taft Avenue untuk MRT. Karena saya akan ke daerah Makati sehingga mengambil jalur MRT. Stasiunnya bener-bener mirip dengan Stasiun Pasar Senen hanya saja antrinya lebih rapi ga pakai dorong-dorongan. Di pintu masuk dijagain banyak security, beberapa ada yang membawa laras panjang. Serem banget sih. Eh security apa polisi ya? Mbuh lah yang pasti pakai seragam lengkap. Sebelum masuk tasnya harus diperiksa dulu diobok-obok pakai kayu satu per satu jadi menimbulkan antrian yang panjang. Nah tas ransel saya juga harus dibuka tuh, tapi securitynya baik-baik dibantuin semuanya biar ga ngelamain antrian. 

Sebelum membeli tiket saya tanya dulu ke salah satu petugas di loket sambil memperlihatkan peta tempat saya akan menginap. Petanya ga detail banget hanya berupa garis-garis doank, kanan kirinya apa juga kurang jelas. Tapi diperkirakan berada di antara Stasiun Buendia dan Guadalupe. Feeling ibu itu sih lebih dekat dengan Stasiun Guadalupe sehingga saya disarankan turun disana. Dan lagi-lagi mereka semua memanggil saya mam. "Take care mam". Hiks Qamfret..!!!

Setelah mendapatkan tiket saya ikut antri masuk ke kereta. Disini penumpang yang akan masuk ke kereta di tahan dulu di tangga pakai tali pembatas, menunggu penumpang yang turun dari kereta sampai habis. Jika kereta bener-bener kosong baru deh tali di lepas. Setiap gerbong di jaga 1-3 security yang akan berdiri di dekat pintu. Jadi penumpang merasa aman. Kalau ini sih beda dengan di Stasiun Pasar Senen. Di dalam kereta juga ada pengumuman setiap akan berhenti di stasiun berikutnya walaupun dengan bahasa tagalog.

Sampai di Stasiun Guadalupe saya turun dan tanya ke beberapa orang sambil menunjukkan peta dimana kira-kira letak penginapan saya tapi semua menjawab tidak tau. Saya terpikir pindah haluan mencari penginapan lain. Saya coba masuk ke hotel yang dekat dengan Stasiun Guadalupe, tulisan di depannya sih murah 250 peso tapi ternyata harga segitu hanya untuk 2 jam saja. Tarif per malamnya 1600 peso. Jiaah... Ga jadi. Di Our Awesome Hostel Manila 1500 peso untuk 3 malam. Hostel itu (hostel ya bukan hotel) terletak di ABBA Building jalan Kelayaan Avenue, ke Bonifacio Global City hanya 8 menit jalan kaki. Itu saja petunjuk yang di jelaskan di websitenya. Selebihnya terserah anda... Recommended lah tempatnya nyaman, bersih, lumayan strategis dan murah.

Saya melangkahkan kaki mencari Jalan Kelayaan Avenue mengikuti perasaan kira-kira. Melihat peta buta itu sih sepertinya ga terlalu jauh. Belok ke jalan kecil lewat pasar yang jualan sayur dan buah. Persis kya pasar di Indonesia. Lalu lewat ruko, rumah-rumah penduduk dan akhirnya ketemu jalan besar lagi. Disana saya coba tanya ke orang yang lewat.

"Pak Jalan Kelayaan Avenue dimana ya?"
"Disini.."
"Ouw, benarkah... (mak plong). Kalau ABBA Building dimana pak?"
"Disebelah sana, tapi jauh"

Seperti saya lagi di Kebon Jeruk trus nanya Taman Anggrek, nah kalau jalan kaki kan gempor. Saya dipanggilkan abang three cycle (becak motor) oleh bapak yang baik hati itu agar diantarkan ke ABBA Building dengan ongkos 15 peso sekitar Rp 4500. Setelah berterima kasih, saya naik ke angkutan mungil dan lucu yang sebenarnya hanya motor di tambahin tempat duduk disampingnya. Ga ada 10 menit becak motor berhenti di depan sebuah gedung.

"This is ABBA Building mam". 

Ternyata tulisannya kecil doank di terasnya. Kalau ga jeli mah bakal kelewat apalagi yang masih baru kya saya sampai jungkir sepertinya ga bakal ketemu. Begitu masuk ke lobby ga akan ketemu dengan resepsionis tapi hanya ada security. Selain hostel disana ada beberapa kantor yang salah satunya adalah refil air minum. Sempat bingung ini hostel apa pabrik air minum ya? Ternyata resepsionis hostelnya berada di penthouse di lantai 10 dan kamar-kamarnya kalau ga salah dari lantai 7 sampai 9 hehe kebalik ya jadi kalau mau cek in harus ke lantai paling atas...

Stafnya ramah-ramah banget parasnya seperti orang Indonesia semua. Awalnya saya ditanya pakai bahasa tagalog, pas kelihatan cuma bengong aja baru deh ditanya "Where are you from?" Hahaha dari tadi atuh mbak...

Setelah mengisi data dan membereskan administrasi saya diantar ke kamar oleh salah satu stafnya sambil ngoceh sepanjang jalan, "Okey follow me mam... Why do you come here mam? Are you alone mam? Okey mam this is your room and you can choose one do you like mam... 

Haiiissshhh... si cempreng ini, emang saya ibumu?? Masih ada 3 tempat tidur yang kosong dan saya memilih di pojok. Di sebelah ada mbak-mbak dari Vietnam, China dan Filipina (Mindanao).

Setelah terkonek dengan wifi saya browsing-browsing kenapa sih di Filipina panggilannya pakai mam? Rasanya ga rela masak saya diemak-emakkan. Rupanya maksudnya tuh "Ma'am" yaitu singkatan dari "Madam" jadi bukan "Mommy" yang selama ini saya kira. Maaf deh kalo gitu hahaha.... Tapi gara-gara itu saya jadi akrab dengan temen-temen sekamar dan berujung saling berbagi makanan.

Bagaimana cerita selanjutnya, ngapain aja saya selama di Manila nanti ya kalau ga males diterusin lagi...

Saya dan Mae asli Filipina, paling enak pagi dan sore nongkrong di roof top ketemu dengan penghuni hostel yang lain


Persis kya orang Indonesia kan? Saya juga sering dikira asli Filipina sering diajak ngomong pakai bahasa tagalog.

Dari atas penginapan, tampak kemacetan di beberapa ruas jalan di Manila

Jun 23, 2015

Atlas Dunia

June 23, 2015 0 Comments
Sejak kecil saya suka sekali dengan atlas dunia, peta dunia, bola dunia dan apapun yang berhubungan dengan peta. Melihat benua, pulau dan batas-batas negara rasanya sangat menyenangkan dan membuat penasaran. Rasanya pengen keliling dunia pengen bisa melihat ada apa disana. Tapi ya selalu sadar diri ga mungkin, emang gimana caranya? Duit dari mana? Ke luar negeri pasti biayanya mahal. Sepertinya mustahil bagi saya yang hanya orang kampuang ga bisa bahasa Inggris bisa pergi ke luar negeri sehingga biarpun pengen saya ga pernah bermimpi.

Ternyata setelah dewasa dunia berkata lain. Allah mendatangkan rejeki dan membukakan pintu untuk saya menginjakkan kaki ke luar Indonesia. Alhamdulillah pertama kali saya diijinkan ke Madinah dan Mekah untuk ibadah umroh. Pertama kali mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah rasanya seperti mimpi sekaligus kaget ternyata bandara luar negeri ga seperti yang saya bayangkan. Gedungnya tinggi kinclong mewah, ramai dan sibuk. Ternyata memang ramai dan sibuk tapi ga kinclong dan mewah. Yang bikin heran lagi toiletnya lha kok antriannya puanjaaang trus klosetnya hanya lantai semen dicelong gitu doank jauh dari kesan mewah. Showernya hanya pakai selang diklewerin gitu aja di pinggir kloset. Baru juga nongkrong udah digedor-gedor dari luar oleh orang yang berbadan gede-gede. Pada kebelet  semua maklum abis perjalanan panjang dari negaranya masing-masing pasti banyak yang nahan pipis di pesawat. Tapi dua tahun kemudian setelah saya kembali kesana bandara King Abdul Aziz telah banyak mengalami perubahan dan jauh lebih baik. Itulah kesan pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.

Dihari-hari berikutnya Allah masih memberi saya rejeki untuk melihat negara tetangga walaupun pergi secara gembel. Alhamdulillah sampai sekarang telah diberi beberapa kali kesempatan dan keberanian untuk jalan-jalan sendirian ke negeri orang. Biarpun akhirnya saya jadi kecanduan tapi saya tidak memaksakan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang tergambar di atlas dunia sebanyak mungkin. Semua disesuaikan pada kemampuan yang saya miliki.

Sekarang gambar ini wajib dipasang di kamar bukan karena pengen banget keliling dunia tapi karena memang saya suka. Kalau ternyata diberi kesempatan ya syukur alhamdulillah.

Jun 22, 2015

Telur Ceplok

June 22, 2015 0 Comments
Makanan yang ga pernah membosankan buat saya adalah olahan telur. Entah diceplok, didadar, direbus atau dibakar, rasanya tetap high class. Kecuali kalo yang kebanyakan garem ya terpaksa jadi milik kucing. Namun untuk telur ceplok saya punya syarat khusus agar menjadi lebih istimewa walaupun rasanya sama aja. Syarat ini telah saya buat sejak kecil yang saya sendiri bahkan tidak bisa mengingatnya. Hanya menurut cerita dari salah satu kakak saya. Jadi telur ceplok yang baik dan benar adalah yang kuningnya tetap utuh trus letaknya harus pas di tengah. Kalau sampe miring apalagi pecah itu jelek. Saya pasti nangis guling-guling dan minta diulang lagi. Entah apa maksudnya.

Kebiasaan ini kebawa sampe gede. Tentunya ga sampe ngegoreng ulang kalo gagal. Ngladenin! Tapi tetap berusaha dibuat seperti itu sambil dimainin nunggu mateng. Perasaan saat makan kalo bisa memisahkan kuningnya tuh kya ada surprise, kya nemu sesuatu yang baru gitu. Padahal rasanya beneran ga ngaruh.

Bikin telur dadarpun diusahakan kuning telurnya jangan sampe pecah. Caranya diaduk pelan-pelan bagian putihnya dicampur dengan bumbu yang ada. Kuningnya tidak boleh kesentuh. Kemungkinan berhasil sih kecil. Secara selaput tipisnya bukan dari karet. Ga ada kerjaan banget kan tapi itulah kenyataan hehehe...

Jun 21, 2015

Inikah Cinta?

June 21, 2015 0 Comments
Tadi pagi saat pulang kerja saya melihat peristiwa yang sangat mengharukan, lebih tepatnya sih lucu. Suasana kost'an sepi. Titis belum pulang dari masuk malem, Hani dan penghuni forbidden room lagi mudik, Cita dan Yuyun lagi tidur di kamarnya masing-masing. Kamar Cita gelap, pintu tertutup, kaca jendela terbuka dan gordennya yang terbuka setengah berkibar tertiup kipas angin. Kamar Yuyun terang dan pintunya terbuka. Yuyun tidur tergeletak di lantai di atas sajadah masih memakai mukena dan memegang Al Qur'an. Di depan pintunya ada mpus yang setia banget menjaganya sambil sesekali meliriknya dengan tatapan yang penuh cinta. Saat saya mendekat si mpus mengeong pelan sambil melotot, lalu menoleh melihat Yuyun lalu melihat ke saya lagi seolah berkata "Jangan ganggu dia lagi bobooo..."

Setia banget

Yuyun dan kucing-kucing di kost Bu Haji Pur ini memang mempunyai hubungan yang sangat intim. Dia sangat setia menyisihkan sedikit makanannya buat si mpus yang selalu datang tak diundang, rajin memilah tulang ikan demi berbagi dengan makhluk yang menurutnya sangat manis dan selalu ngglibet di dekat kakinya. Tak jarang makanannya yang diletakkan di meja pun diduluin oleh si mpus saat ditinggal mandi. "Iihh si kucing nyebelin" Hanya itulah kalimat yang biasa terlontar saat dia merasa kesal. Akibatnya si mpus pun mempunyai ikatan batin yang begitu dalam dengannya. Seolah ingin membalas budi mereka selalu setia menjaga kamar Yuyun.

Note : cerita ini hanya candaan belaka sebagai warna kehidupan di kost Bu Haji Pur. Jangan marah ya Uyuuun...
*penghuni forbidden room : teman kost yang kamarnya selalu dikunci biarpun hanya ke kamar mandi dan cuci piring di depan kamarnya hihihi...
 

Jun 18, 2015

Deli

June 18, 2015 0 Comments
Saya punya teman namanya Deli (bukan nama sebenarnya). Orangnya baik, polos, apa adanya dan kadang pemalu. Dulu kalau makan suka malu-malu ga dihabiskan, bekalnya dari rumah sering dibawa pulang lagi tapi sekarang kalau makan harus dua porsi. Rajin membelikan obat kaligata/biduran buat saya tapi akhirnya diminum sendiri karena jadi kena kaligata juga. Satu almamater dengan saya, adik kelas satu tahun dibawah saya. Waktu kuliah saya ga kenal dia tapi dia kenal saya, terbukti kan kalau saya tuh orangnya terkenal, terkenal tukang tidur maksudnya...

Dia suka sekali cerita horor, suka menakut-nakuti teman-teman yang lain. Padahal sendirinya penakut abis. Sehingga jika ngisengin orang gampang untuk diisengin balik.

Suatu hari saya masuk sore pulang jam 10 malam dan oper shift ke dia. Kami berniat iseng buat menakutinya. Sebelum dia datang semua lampu di ruangan dimatikan dan kami ngumpet di bawah meja. Begitu masuk, dia ketakutan sekali terdengar dari langkahnya yang semakin cepat menuju ke saklar lampu. Agar suasana terasa horor kami melemparkan beberapa spidol, PRAAKKK..!!! Dia seperti ingin teriak tapi karena tidak ada orang satupun maka ditahan. Setelah lampu menyala semua, kami keluar dari persembunyian dengan tiba-tiba, tentu saja membuatnya terperanjat.

"Ih ngerjain aja..." hahahaha... 

Di malam-malam berikutnya saat oper shift lagi, seperti biasa lampu dimatikan tapi kali ini disisakan lampu tengah. Saat dia datang, sebelum meletakkan tasnya kami ajak ngobrol di tengah ruangan. Membahas tentang sesuatu yang horor. Langsung deh tuh mengalir cerita horor di kost-kost'annya waktu kuliah. Semangat dan heboh sekali ceritanya. Jadi katanya ada seorang temennya yang pingsan karena melihat shinchan di jendela kostnya.

"Shinchan maksudnya apa Deli?" tanya saya pura-pura tidak paham.
"Nanti kalo disebutin kakak bisa takut" jawab Deli setelah sekian detik memikirkan sesuatu.
"Ga kok, aku ga takut, bilang aja..."
***Berpikir serius...
"Kalau kakak meninggal kakak akan jadi apa, ya itulah temen aku melihat itu..."
"Meninggal? Jadi apa? Pocong maksudnya?"
"Iya kak" jawab Deli dengan ekspresi ketakutan.
"Trus gimana lagi?"
"Jadi temenku ngelihat pocong di belakang kostnya dari jendela, abis itu dia pingsan"
"Ooh..emang serem banget ya"
"Ya serem donk kak namanya juga kya gitu" kata Deli masih belum tega menyebut kata pocong.
"Kok jadi merinding ya dengernya, takut ah..kita pulang yuk..." ajak saya pada teman-teman.
"Hayuk pulang takut ah disini... hiiyyy... merinding..." jawab semua teman-teman sambil berlalu meninggalkan Deli.
"Ih jangan tinggalin aku.. Jangan pulang dulu tungguin kak Dian dataang..." Deli kebingungan karena kak Dian teman seshiftnya belum menampakkan diri.
"Dadaaahh..kita pulang yaa.. Hati-hati Deli ada shinchan..."
"Kalian ini ngejebak aku yaa..."
"Hahahahaa...."

Akhirnya dia ikut keluar duduk di depan ruangan menunggu sampai kak Dian datang. Di hari-hari berikutnya dia tidak mau lagi cerita horor biar dipancing-pancing kya apa tetap tidak tidak dan tidak. Hahahaha....

Jun 17, 2015

Indonesia... Murah...

June 17, 2015 0 Comments
Menurut cerita teman dan beberapa kali pernah merasakan sendiri, dimana-mana orang Indonesia paling disambut tapi oleh pedagang karena paling konsumtif diantara yang lain. Kalau belanja ga tanggung-tanggung. Jarang hanya jalan-jalan belaka, pastinya sekalian karena aji mumpung, mumpung murah, mumpung diskon, mumpung ada, mumpung kesini, buat si ini si itu dan seabreg lagi. Lihat saja yang baru pada pulang dari luar negeri pasti kopernya pada berjibun.

Pernah asakan sendiri waktu di Arab tapi taunya ya cuma Mekah, Madinah dan Jeddah karena paket umroh. Disana banyak pedagang yang bisa bahasa Indonesia bahkan bayarnya pun boleh pakai rupiah. Saya masuk toko sambil ngobrol sama temen mungkin denger obrolan kami jadi mereka tau dari Indonesia, tadinya pedagang itu lagi melayani orang Malaysia seketika langsung pindah haluan ke kami "Ayo Indonesia sini murah murah..." "Sepuluh real, lima real" "Bisa diskon" "Halal kakak halal". Jadi serasa di Tanah Abang.

Pernah juga nganterin ibu-ibu serombongan belanja, aje gileee... Segala diborong bo. Ga ada ceritanya beli makanan cuma sekilo, minimal 5 kilo dan bermacam-macam pula. Kalau beli baju, sajadah, pashmina gitu minimal selusin. Sampai bengong duitnya kok ga habis habis. Jadi kya lebih banyak mikirin belanjaan dari pada ke masjid. Mau ke masjid mampir toko dulu, pulangnya apalagi. Koper berangkatnya cuma satu, pulang istrinya tiga suaminya tiga yang paling kecil ukuran 29. Ruaaarr biasaaaa... Tau banget karena saya sekamar ama istrinya. Itu baru sepasang ya masih berjibun lagi ibu-ibu yang lainnya.

Itulah yang bikin pedagang disana cinta banget ama orang Indonesia. Karyawan toko kebanyakan diambil dari Indonesia. Konon pasar seng di Mekah yang kasih nama juga orang Indonesia. Sampai kresek bungkus belanjaan tulisannya bukan Arab lagi tapi bahasa Indonesia biarpun EYDnya ga pas.

Pernah juga waktu di Seoul di Namdaemun Market. Banyak banget pedang yang antusias menyambut kami kadang ada yang bisa bahasa Indonesia juga. Begitu kami masuk ke toko langsung disuruh duduk, dikasih minum dan dipaksa suruh nyicipin banyak banget ga ada pelit-pelitnya. Akhirnya karena ga enak jadi beli semua termasuk saya yang niatnya cuma nganterin dan karena belinya banyak jadi dikasih bonus banyak banget. Setelah dibanding-bandingin ternyata disitu harganya mahal. Pantes aja bonusnya banyak hahaha... Mereka udah hafal kali, orang Indonesia kalau dibaikin sedikit jadi ga enakan.

Di bandara Don Mueang Bangkok saya pernah bareng rombongan ibu-ibu yang kopernya gede-gede. Mereka check in duluan dan lamaaaaa... banget ga selesai-selesai. Ternyata kopernya pada over weight dan disuruh bayar ada yang seorang sampai 2jt. Nah lo... Padahal isinya cuma barang-barang krentilan yang harganya ga seberapa. Untung petugas check in nya baik, jadi dititipin ke orang-orang yang bagasinya masih tersisa, termasuk ke saya. Saya hanya bawa ransel dan males naro ke bagasi, untungnya cuma 7kg lebih sedikit masih diperbolehkan dibawa ke kabin. Jadi free bagasi saya 15kg ga kepake sama sekali. Eh masih 4 koper lagi ternyata. Singkat cerita yang 2 koper masih bisa nitip ke orang dan yang 2 lagi harus dibongkar dibagi-bagi ditenteng ke kabin. Dan bener isinya krentilan kya gantungan kunci dan gunting kuku. Kok jadi ngomongin belanjaan orang suka-suka sih mau beli apa tapi harusnya kan bisa memperkirakan bagasinya jadi ga merepotkan orang lain.

Itu baru yang saya lihat sendiri yang notabene saya jalan-jalannya masih tahap ecek-ecek, kalau cerita dari orang yang suka keliling Eropa atau USA, katanya orang Indonesia kalau belanja bisa sampai ratusan ribu uang sono kalau dirupiahkan jadi angka M. Jadi sangat beralasan kalau orang Indonesia memang paling disambut pedagang dimana-mana.

Jun 16, 2015

Are You a Malaysian?

June 16, 2015 0 Comments
Kalau kemana-mana saya sering disangka orang Malaysia. Eh ntar dulu "kemana-mana" kesannya kok kya sering keliling dunia aja padahal negara-negara asean aja baru beberapa, tapi bolehlah narsis dikit siapa tau jadi beneran kemana-mana. Katanya semua berawal dari mimpi. Aamiin.

Seperti waktu umroh sering banget ditanya oleh jamaah di sebelah...
"Malaysia?" 
"No, Indonesia"

Pasti banyak banget yang senasib kya gini, susah emang bedain Malaysian apa Indonesian. Kecuali kalau denger lagi ngomong baru ketauan. Indonesian pun yang dari Sumatra melayu-melayuan gitu logatnya hampir sama. Ya kata mak cik kan kita masih serumpun.

Pernah juga waktu di Seoul, saya jalan sore-sore lihat sunset ke Naksan Park. Disana ada beberapa oppa dan eonni lagi jogging serta kakek dan nenek lagi momong cucu. Saat melintas di depan kakek yang lagi istirahat, beliau nanya...

"Are you moslem?"
"Yes"
"Malaysia?"
"No, Indonesia. Do you know Indonesia?"
***Ngangguk doank tapi kya sambil mikir.

Masih di Seoul, saya jalan-jalan sendiri di pasar deket Ewha Women University. Ceritanya hari terakhir disana pengen ngabisin duit recehan won yang tinggal sedikit, karena kalau dibawa pulang ke Indonesia harganya bakal jatuh bisa jadi malah ga laku. Saya masuk ke toko baju disambut oleh oppa pelayannya.

"Hello... Are you a Malaysian?" 
"No, I am from Indonesia" 
"Ouw Indonesia, BADMINTON..!!!" kata si oppa sambil ngepalin tangan,  seketika inget oppa Lee Young Dae yang ganteng itu. Bangga juga Indonesia dikenal badmintonnya.

Masih di pasar deket Ewha Women University, saya masuk ke toko sepatu.
"Malaysia?" 
"No, Indonesia" 
"Oh I like Indonesia, Bali"
Selama di toko itu mbaknya ngikutin saya ngajakin ngobrol, bukan pelayannya sih tapi sesama pengunjung. Note, akhirnya saya ga beli apa-apa ternyata duitnya ga cukup.

Masih di Seoul juga tapi lupa dimana aja, saking seringnya sampai bosen.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Oh, I think from Malaysia"
***Segitu terkenalnya orang Malaysia di Korea.

Sering lagi di Thailand. Dari selatan sampai utara yang pernah saya datangi, paling sering dikira dari Malaysia, kadang dikira asli Thailand. Ga pakai nanya dulu, langsung aja manggil "Hello Malaysia salamat siang".
***Sotoy banget...

Kalau di Malaysia sendiri pastinya sering di sangka orang lokal. Saya pernah ikut dengerin ceramah di Masjid Al Hana Langkawi sehabis maghrib sekalian nunggu isya. Diem mentereng dengerin pak ustadz ngomong pake bahasa melayu kental, ujung-ujungnya ga ngerti juga. Ngerti sedikit selebihnya kira-kira. Eh taunya ibu-ibu di sebelah minta dijelasin, mungkin maksudnya gini "Tadi kata pak ustadz yang ini ini ini... maksudnya apa?" pake bahasa melayu kental, tentu saja hanya jawab geleng-geleng dan membuat ibu mengerutkan dahi. Aneh mungkin kya yang serius dengerin tapi ditanya ga ngerti hahaha...

Tapi biar begitu saya ga pernah beruntung kalau lagi beli tiket ke tempat wisata di Malaysia, ga pernah dapet harga orang lokal biarpun udah gegayaan sok pake logat melayu ngikutin Upin Ipin. Ga akan bisa mengelak lagi kalo udah ditanya, Where are you from? You local or foreign? Bisa kasih lihat IC? Awalnya ga tau apa itu IC, kirain kode apa ternyata Identity Card kalau di Indonesia KTP.

Jun 15, 2015

Menuju ke Golden Triangle - Perbatasan 3 Negara

June 15, 2015 4 Comments
Golden Triangle atau Segitiga Emas Asia Tenggara adalah suatu tempat dimana kita bisa melihat tiga negara dalam satu pandangan yaitu Thailand, Laos dan Myanmar. Hanya dipisahkan oleh pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong. Berada di distrik Chiang Saen, 829 kilometer dari Bangkok dan 80 kilometer dari kota Chiang Rai. Dulu tempat ini merupakan ladang penyelundupan opium yang sangat terkenal di dunia. Tentu saya kesana bukan mencari opium hanya sekedar melengkapi gelandangan di Chiang Rai.

Pagi itu jam 08.30 kota Chiang Rai masih diselimuti kabut. Udara dingin menampar pipi dan membuat bibir kering bocel-bocel. Saya masuk ke kantin di guest house.

“Thangchiek chuong hsgakuk shtagddjajg skjdgyfsa” sepasang kakek dan nenek penjaga kantin menyambut saya.
“Aku wes adus nek saiki luwe” kata saya sambil menunjuk gambar roti. 

Lalu beliau membuatkan saya roti bakar dan teh manis. Dari pada susah-susah pakai bahasa Inggris mending pakai bahasa Jawa simbahnya juga ngerti.

Selesai makan saya jalan kaki ke terminal mencari minivan yang bernama Green Bus jurusan Golden Triangle. Tidak susah menemukannya karena tulisannya campuran keriting dan bahasa Inggris. Belum ada penumpang di dalam van sehingga harus menunggu sampai van terisi penuh. Sebelum berangkat sopir meminta ongkos 50 bath per orang.

Di perjalanan melewati beberapa kali check point. Van berhenti di depan pos dan tentara bersenjata lengkap masuk ke dalam mobil memeriksa penumpang satu per satu. Bagi warga lokal diharuskan menunjukkan KTP dan turis luar menunjukkan paspor. Yang tidak dapat menunjukkan identitas akan dibawa masuk ke kantor. Konon selain jalur perdagangan opium di jalur ini juga tempat masuk dan keluarnya para tenaga kerja ilegal dan imigran gelap. Jadi bisa 3 sampai 5 kali pemeriksaan. Disitu saya merasa takut.

Dua jam berselang tibalah di Golden Triangle. Golden Triangle sebenarnya kini hanya menyisakan keping kenangan kejayaan di masa lalu. Ternyata biasa saja dan tidak seseram yang saya bayangkan. Ada sebuah papan dan tugu sederhana sebagai penanda tempat legendaris ini. Pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai pembatas tiga negara hanyalah sungai besar yang berair cokolate butek mirip dengan Sungai Grindulu di Pacitan. Hampir tidak ada yang istimewa.

Tugu penanda Golden Triangle

Salah satu yang menarik perhatian di Golden Triangle adalah kuil yang berada di tepi Sungai Mekong di daratan Thailand. Kuil ini berada di sebuah bangunan seperti perahu besar berwarna cerah dengan ornament kepala naga di ujungnya. Sementara diatasnya terdapat patung budha besar berwarna emas setinggi 46 meter. Patung ini bisa dilihat dari 3 negara.

Kuil Budha


Saya berdiri di Thailand, di belakang saya sebelah kiri tampak rumah kecil-kecil merah adalah  Myanmar dan sebelah kanan tampak kubah kuning adalah  Laos.

Dari daratan Thailand bisa naik perahu menuju Donsao yaitu desa yang berada di teritori Laos dengan membayar 200 bath. Tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi lazimnya melintasi batas negara. Cukup membayar 20 bath untuk mendapatkan kertas kecil sebagai penanda pernah berkunjung kesana. Disana ada pasar kecil yang menjual berbagai pernak-pernik karya lokal seperti tenun, serangga yang diawetkan dari kecoa sampai kalajengking. Yang paling aneh adalah snake wine, di dalam botol wine terendam ular mati wueeekk… Dikasih gratis juga ogah. Pasti buat yang itu-itu... Apa coba?  

Dari Golden Triangle saya lanjut ke Mae Sai. Saya ingin mencoba masuk ke Myanmar walaupun hanya di perbatasan yaitu Tachileik. Saya diturunkan di sebuah halte oleh sopir van entahlah daerah mana karena tidak ada tulisan Inggris sama sekali. Katanya disitu tempat menunggu bus jurusan Mae Sai. Memang ada beberapa kali bus lewat tapi tulisannya keriting semua dan saya tidak berani naik. Setelah hampir satu jam, lewat juga bus jelek dengan tulisan yang bisa dibaca yaitu Mae Sai.  

Saya naik bus itu, di dalam ada perasaan lega karena ada satu penumpang bule berambut pirang. Walaupun tidak ngobrol setidaknya ada teman yang sama-sama orang asing. Busnya berjalan lelet banget sambil mencari penumpang sepanjang jalan dan beberapa kali mencari alamat untuk menyampaikan kiriman paket. Sampai di Mae Sai ternyata sudah kesorean. Waktu menunjukkan pukul 16.00 tidak memungkinkan untuk masuk ke Tachileik, karena angkutan umum terakhir ke Chiang Rai jam 17.00. Akhirnya saya pulang lagi ke Chiang Rai naik minivan yang lebih cepat.

Jun 14, 2015

Bertemu Orang Baik Di Chiang Rai

June 14, 2015 1 Comments
Setelah mandi, sholat dan istirahat, jam setengah 3 sore saya berangkat  ke White Temple (Wat Rong Khun) adalah salah satu kuil Budha paling terkenal di Chiang Rai. Letaknya jauh di luar kota Chiang Rai kira-kira 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Jika naik songthew ongkosnya lumayan mahal antara 500-600 THB, tapi saran dari teman bisa naik bus umum dari terminal 1 hanya dengan 20 THB.
 
Saya jalan kaki ke terminal yang letaknya 500 meter dari penginapan. Sampai di terminal mencari bus umum yang berpenampakan jelek-jelek dan tulisannya keriting semua. Lhadhalah… yang mana? Saya disuruh naik ke salah satu bus oleh ibu-ibu kondektur. Busnya ngetem dulu sekitar 45 menit. Jadi deg-degan khawatir kesorean karena bus terakhir balik ke Chiang Rai jam 5 sore. Jalannya juga lelet banget masih sambil nyeser-nyeser nyari penumpang. Persis kya bus umum di Indonesia kondekturnya menggantung di pintu sambil teriak-teriak.

Sekitar 1 jam perjalanan, di sebuah perempatan ibu kondektur memanggil saya “White Temple... White Temple…”. Ibu itu mengantarkan saya turun dan menunjukkan arah ke White Temple dengan bahasa isyarat. White Temple tidak berada di pinggir jalan raya tapi masuk ke dalam sekitar 200 meter. Jam menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat, artinya saya hanya punya waktu setengah jam disana dan harus balik lagi untuk mengejar bus terakhir. Rasanya tidak rela kalau harus buang duit 600 THB. Saya jalan cepat setengah lari lalu mengambil gambar jeprat jepret sekenanya. Untunglah masih sempat berfoto narsis di depannya.

Di depan White Temple

Jam 16.55 saya lari ke pinggir jalan. Suasananya sepi sekali tidak ada orang satu pun. "Benarkah nunggu busnya disini? Ya Allah help me". Saya duduk di halte sampai jam 17.15 belum ada bus yang lewat. Hari semakin gelap, saya semakin deg-degan. Kalau terpaksa berarti harus merelakan 600 THB.

Suasana di halte, semakin gelap semakin ngenes

Tiba-tiba ada sepasang bule sudah agak tua dari England, katanya mau ke Chiang Rai juga. Namanya Brenda dan Bryan. Kami duduk bertiga di halte sama-sama berharap masih bisa terangkut oleh bus yang terakhir.

Jam 17.30 belum juga ada bus yang lewat. Syukurlah ada sebuah songthew berhenti di depan halte “Chiang Rai.. Chiang Rai...” teriak pak sopir. Brenda menggandeng tangan saya untuk naik ke angkot khas Thailand itu. Di dalamnya ada sekeluarga bule England bapak, ibu, anak bersama guidenya mbak-mbak cantik orang Thailand. Sepertinya songthew itu telah di sewa oleh mereka, tapi kami diperbolehkan bergabung. Kami ngobrol sepanjang jalan saya kadang nyambung kadang plonga plongo, mereka bahasa Inggrisnya licin-licin banget, pastinya donk orang Inggris semua.

Sampai di Chiang Rai songthew mengantarkan bule England sekeluarga ke guest housenya, lalu mengantarkan saya. Sebelum turun saya berpamitan dengan Brenda dan Bryan, tak lupa membayar ke pak sopir. Tadinya diminta 200 THB dikira buat bertiga karena sendiri hanya diminta 60 THB. Masih murah lah karena diantar sampai penginapan. Brenda teriak dari dalam songthew “How much?” “60 bath”. Songthew beranjak pergi dan saya masuk ke halaman guest house.

Saya duduk di teras mencari sinyal wifi, mengaktifkan hp barang kali ada kabar cinta. Tiba-tiba ada suara memanggil...

“Hello…” Brenda dan Bryan menyusul saya. 
“Kamu tadi bayarnya kelebihan seharusnya hanya 20 bath, sopir songthewnya memang meminta lebih tapi biar kami saja yang bayar, dan ini uang kamu” kata Brenda sambil menyodorkan uang 40 THB.
“Ohh... Thank you so much…” kaget keheranan dan hanya itu yang bisa terucap.
“Bye bye…”

Subhanallah… baik banget… 40 THB memang tidsk seberapa tapi sempet-sempetnya sampai nyari saya ke guest house. Jadi terharu.

Setelah maghrib saya keluar ke Night Bazaar sambil berdoa semoga ketemu lagi dengan Brenda dan Bryan. Chiang Rai hanya kota kecil, hiburan dimalam hari yang paling popular hanyalah itu. Tapi sudah muter kesana kemari keliling pasar belum juga bertemu mereka. Cari ke beberapa restoran tidak ada. “Where are you Brenda?” 

Udara semakin dingin rasanya ingin menyerah dan pulang ke guest house. Tapi berpikir lagi, orang seperti mereka tidak akan makan di restoran pastinya di tempat yang lebih merakyat. AHAA… Di sebelah ada banyak kursi di tanah lapang yang dikelilingi oleh tenda makanan. Di depannya ada panggung tempat tari-tarian tradisional. Saya coba cari disana, kalau tidak ketemu juga ya berarti anda tidak beruntung.

Benar saja saya melihat ibu-ibu memesan bir, dari belakang kelihatannya seperti Brenda. Karena tidak yakin saya tidak berani memanggil dan hanya mengikutinya dari belakang. Sampai di tempat duduknya suaminya memanggil saya.

“Hello…”
“Haaa… Akhirnya ketemu lagi”
“Hayo duduk”
"Okay. Thank you!!"
Dan malam itu saya menghabiskan waktu bersama mereka. Biarpun baru kenal tapi rasanya seperti bertemu orang tua saya. Begitulah pertemuan sesaat kadang lebih bermakna.

Always miss them

Jun 13, 2015

Mabok Massal ke Anak Krakatau

June 13, 2015 2 Comments
Jam 11 malam saat mata sedang lengket-lengketnya kami janjian di Alfamidi depan komplek. Saya, Mbak Pipit, Mas Dodi dan Huda. Agar tak membebani pundak, tas ransel dan segepok perbekalan kami letakkan berdekatan di teras Alfamidi, karena masih menunggu rombongan yang lain. Beberapa saat kemudian berhentilah sebuah angkot warna merah di seberang jalan. 

"Hey hayuuk...!!" panggil Bulek Tati sang Bos dari balik angkot. 
"Siapa mbak, saya?"
"Halah lu, cepetan"

Kami menyeberang jalan sambil menenteng segala perbekalan dan naik ke taksi rakyat jelata itu.  Di dalam ada Mbak Dian dan Bang Zul yang menebar senyum di bawah temaram lampu. Angkot pun membawa kami sampai di pelabuhan merak. Suasana di pelabuhan penuh dengan manusia yang menggendong ransel yang hendak merayakan hari ulang tahun Indonesia di beberapa daerah di Lampung.

Salah satu dari rombongan kami, Mas Dodi mengambil posisi ke barisan panjang yang mengarah ke sebuah loket demi semua rombongan agar bisa memegang kartu sakti sebagai syarat masuk ke kapal. Setelah dipersilahkan masuk kami memilih ruang VIP agar bisa melepas lelah. Ternyata penuh seperti tempat pengungsian oleh traveler yang lesehan di seluruh ruangan. Membaurlah kami di lapak yang masih tersisa. 

Tak berapa lama kapal membunyikan peluit panjang dan bergerak meninggalkan Pelabuhan Merak. Bekal camilan mulai dikeluarkan satu persatu dari kresek penyimpanan. Canda tawa dan tebak-tebakan dilontarkan selama perjalanan, sampai tak terasa kapal telah berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Itu teman-teman ya, saya mah tidur tau tau nyampe hihihi...

Setelah sholat subuh di Pelabuhan Bakauheni kami mencari angkot untuk disewa ke Dermaga Canti yaitu tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu yang akan mengeksplor ke kawasan anak krakatau. Kebetulan bertemu dengan rombongan dari Medan 5 orang yang bersedia bergabung dengan kami ber-7 sehingga pas satu angkot dan ongkosnya jadi lebih murah. Lalu angkot membawa kami menyusuri jalanan di Lampung yang naik turun dan berkelok kelok selama 1.5 jam

Sebelum bertemu dengan rombongan yang lain kami melakukan ritual makan pagi di warung dekat dermaga. Gorengan bakwan dan tempe yang masih hangat membantu mengembalikan konsentrasi setelah perjalanan jauh dari Cilegon. Di warung ini pun tersedia beberapa kamar mandi tapi berhubung kesabaran mengantri sedang menurun saya lebih memilih terima apa adanya. Bilang aja males.

Selesai ritual, rombongan belum terkumpul semua. Kami menyempatkan berfoto di pinggir pantai berpose dengan pisang dan pete bertumpuk-tumpuk hasil panen warga di pulau seberang di sekitaran selat sunda. 

"Kalau mau makan ambil aja neng" kata abang yang mengangkut makanan berbau wangi itu. 
"Waduh makasih bang, kasian teman sekamar nanti". 

Matahari semakin meninggi dan udara mulai membuat berkeringat akhirnya seluruh rombongan terkumpul, total jadi 45 orang (kalau ga salah). Sejenak sang EO memberikan briefing juga perkenalan dengan seluruh rombongan. Lalu jam 9.30 kami dipersilahkan masuk ke kapal kayu berwarna hijau berkapasitas 50 orang, bersuara berisik dan berbau solar.

Begitu kapal bergerak perut saya mulai bergolak, kepala berputar-putar seperti naik kora-kora di dufan. Suara berisik dari mesin kapal, bau solar menyengat, pemandangan ombak bergulung-gulung serta goncangan kapal yang tiada henti adalah kombinasi yang sangat bagus untuk menyiksa diri. Sering kali harus menarik nafas panjang sambil menelan saliva yang terasa asin yang terus menerus merangsang perut untuk mengeluarkan sesuatu. Omaigat kemana harga diri ini kalau sampai terjadi peristiwa seperti (maaf) wanita yang sedang hamil. Gelar wonder women pasti luntur dengan seketika.

Saya maju ke depan ke ruang kemudi mencari pelipur lara. Rupanya keduluan mbak-mbak yang bernasib sama telah tergolek di kursi samping pak nahkoda. Matanya tertutup rapat, hidung dan mulutnya ditutup jaket, tapi dengan kesadaran penuh alias hanya pura-pura tidur. Terpaksa saya duduk di pintu menghadap ke depan agar bisa melihat ombak begulung-gulung yang diterjang kapal. Perasaan lamaaaa.... banget ga nyampe-nyampe. Biarpun terasa jalan tapi kapal seakan diam di tempat.  

Saya naik ke atas deck untuk mengalihkan perhatian, ikut foto selfie. Wajah ceria senyum lebar tapi semua palsu. Perut saya bener-bener ga bisa kompromi. Kalau diturutin entahlah sudah berapa kali beraksi. Akhirnya setelah daya kekuatan tinggal seperempat merapatlah kapal di Pulau Sebesi tempat rombongan kami akan menginap.

Saya gendong ransel dan antri turun dari kapal. Begitu menginjakkan kaki ke tanah, bumi rasanya bergoyang, berputar sampai terbalik. Yang goyang buminya, kapalnya atau saya sih?? Kepala seperti dipukuli pakai palu, badan ga seimbang dan kaki tiba-tiba lemes ga bisa menahan beban. Saya bersimpuh di atas bebatuan dan bom yang siap meledak dari dalam perut akhirnya tak bisa dipertahankan... #hooeekk.... *setengah mati boo...

Beberapa tangan memijat leher belakang saya dan menyodorkan tolak ang*n. Dengan sisa tenaga saya sobek bungkusan warna kuning berisi cairan rasa mint. Tenggorokan sedikit kinclong apalagi ditambah air putih yang entah disodorkan oleh siapa. Setelah menunggu beberapa saat mata saya bisa melek dengan sempurna dan bumi ga bergoyang lagi. Melihat ke sekitar rupanya semua mata memandang ke saya. Duuh...

"Gimana udah enakan?"
"Ga pa-pa cuma acting kok"
"Wueeeekkk..."

Kami dijamu makan siang di pinggir pantai di dekat dermaga pulau sebesi. Sayur asem, ikan goreng dan telor dadar membangkitkan semangat setelah satu setengah jam melawan perasaan amburadul di atas laut. Selesai makan siang, kami diantar menuju ke homestay. Beberapa rumah warga disewa untuk penginapan kami, tentunya laki-laki dan perempuan dipisahkan. Listrik di Pulau Sebesi hanya menyala dari jam 18.00 hingga 24.00 sehingga terik pada siang itu tidak bisa dinetralkan dengan kipas angin maupun AC.

Setelah cukup istirahat gegoleran di lantai, acara sore itu adalah snorkeling di Pulau Umang-umang. Berbekal peralatan snorkel dan kamera tentunya ga boleh ketinggalan kami kembali ke dermaga sebesi lalu naik kapal lagi. Kenangan beberapa jam sebelumnya rasanya belum beranjak dari pelupuk mata. Tapi kali ini masih terkendali karena naik kapalnya hanya sebentar, Pulau Umang-umang ga seberapa jauh dari Pulau Sebesi.

Hamparan pasir putih yang lembut seperti bedak serta beraneka terumbu karang yang dikelilingi berbagai ikan warna warni menyambut kami. Subhanallah indahnya ciptaanMu.

Terumbu karang di Pulau Umang-umang
Tiduran di pasir putih nan lembut

Puas menikmati sajian alam yang memukau, kami kembali menaiki kapal dan kembali ke Pulau Sebesi. Malam itu di dekat homestay didirikan panggung hiburan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Lagu dangdut dan joget-jogetan berlangsung hingga tengah malam. Tapi itu katanya teman-teman, saya ketiduran sampai dibangunkan makan malam pun tidak merespon. Mungkin saya lelah....

Keesokan harinya jam 3 pagi kami dibangunkan untuk bersiap-siap menuju ke anak krakatau. Dengan penerangan seadanya senter dan juga sorot Hp karena masa nyala listrik telah habis, kami menyiapkan barang seperlunya sambil mengumpulkan segenap nyawa. Setelah seluruh rombongan berkumpul kami bersama-sama menuju ke dermaga dan menaiki kapal.

Jam 03.30 kapal mulai beranjak dari dermaga Pulau Sebesi. Ombak dan angin dipagi itu lumayan membuat jantung berdecak lebih kenceng. Goncangan kapal membuat semua penumpang tak mau berjauhan dari pelampung. Air beberapa kali masuk ke dalam kapal dan mesin kapal terdengar tersendat-sendat dan sesekali mati. Saya dan teman-teman hanya bisa pasrah sambil komat-kamit berdoa tiada hentinya. 

EO kami menghimbau agar kami tidak membiarkan perut berlama-lama kosong, sehingga nasi uduk dan telor di dalam kotak segera dibagikan. Makan nasi uduk dipagi buta dengan kondisi mata setengah ngantuk tapi ga bisa tidur, kepala pusing amburadul dan perut bergolak, membutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk menelan. Ditambah dengan aroma solar yang mengalahkan aroma harum nasi uduk dan telor, semakin ditelan semakin ingin dikeluarkan lagi.

Kapal sama sekali tidak bisa diam. Goncangan ke kanan kiri dan naik turun membuat kepala berputar dan perut teraduk. Saya merebahkan diri di sela-sela yang masih muat buat kepala. Begitu juga teman-teman yang lain. Kami semua tergolek tanpa peduli apa yang ada di dekat kepala. Ada punggung, pantat, kaki, kardus bekas nasi ga dipedulikan karena tak mampu duduk lagi. Terdengar beberapa kali suara mengeluarkan isi perut bersahut-sahutan dari berbagai sudut. Bau khas minyak angin bertebaran dimana-mana.

Setelah tiga jam terombang-ambing melawan ombak, kapal kami merapat di sebuah pulau dimana anak gunung krakatau bertengger di tengahnya. Kapal tidak bisa merapat ke pinggir sehingga kami terpaksa turun berbasah-basahan kaki. Begitu menginjak ke tanah bumi bergoyang dengan hebatnya. Bom dari perut siap meledak saat itu juga. Saya segera mencari semak-semak rerumputan dan jegeeeerrrrr.... Semua isi perut terkuras habis tiada sisa. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Pagi itu diawali dengan mabok massal. Luaaar binasaa... Ga kebayang gimana nanti pulangnyaa...

Setelah keadaan aman terkendali badan mulai seimbang, lalu dilanjutkan mendaki ke anak krakatau. Mendaki yang tidak seberapa hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Gunung ini terlihat gundul dan berpasir. Pohon-pohon hanya tumbuh di kaki gunungnya. Pendakian hanya diperbolehkan sampai setengahnya saja. Zona yang lebih tinggi dari itu tidak boleh dilewati karena berbahaya.

Sampai di zona yang dituju kami mengadakan upacara kecil-kecilan mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk merayakan hari ulang tahun Indonesia yang ke-69.
Mengabadikan gambar bersama seluruh rombongan. Ada satu warga asing yang menamakan dirinya Tejo (celana kotak-kotak paling depan). Foto seperti ini harus antri karena banyak rombongan lain yang berdatangan dari berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama.


Dari anak krakatau kami akan melanjutkan snorkeling ke Legon Cabe, sekitar 20 menit naik kapal. Setelah turun dari krakatau kepala saya mulai pusing membayangkan harus naik kapal lagi. Sebungkus wafer dan biskuit tidak juga bisa melipur lara. Ombak di sekitar anak krakatau luar biasa bergulung-gulung. Kapal yang membawa kami oleng kesana kemari tapi syukurlah pak nahkoda sangat lihai mengendalikannya.

Tak berapa lama kapal berhenti di dekat tebing. Mesin dimatikan dan kapal dibiarkan terombang ambing. Beberapa teman yang ahli berenang langsung menceburkan diri ke laut beberapa harus memakai onderdil snorkel lengkap baru ikutan nyemplung. Tadinya saya tidak akan turun tapi diam di kapal justru semakin pusing  dan mual. Akhirnya ikut membaur di laut walaupun tidak bisa berenang.

Snorkeling di Legon Cabe

Lima belas menit berada di laut dan beberapa kali menelan air asin, perut saya terasa mual lagi. Saya bingung kalau sampai muntah diantara teman-teman yang mengambang apa jadinya? Lalu saya naik ke kapal dari sisi kanan melewati tangga bermaksud mencari obat-obatan. Tiba-tiba sampai di atas tangga bom dari perut tak bisa ditahan lagi. #Hoooeeeekk.... Teman-teman di bawah tentu saja kaget semua dan teriak sambil berusaha menjauh. "Mbaaakk... Jangan muntah disitu..." Tapi apa daya saya tidak bisa mengendalikannya lagi. 

Setelah sedikit enakan saya melanjutkan niat naik ke kapal. Tiba-tiba terasa mual yang lebih dahsyat dari sebelumnya dan tak tertahankan. Saya melongok ke jendela kapal sebelah kiri tempat saya berenang sebelumnya. Banyak teman-teman yang masih berada disana. Saya bingung dimana harus meledakkan bom yang lebih dahsyat ini, semua sisi kapal dan di dalamnya penuh dengan orang. Letak toilet terlalu jauh untuk dijangkau dengan bom yang sudah siap ditenggorokan. Akhirnya pecah juga dari jendela sebelah kiri... Pyuuurrr...!!! Seketika berhamburan ke laut. Teman-teman yang sedang asyik jadi terusik namun tak banyak yang bisa dilakukan. 

"Woooee... Jangan muntah di situuu...." 

Maaf pren maaf. Isi perut sampai habis tapi masih mungkak mungkuk lemes ga ada yang bisa dikeluarkan. Saya kehabisan tenaga dan bersandar di jendela. Tapi eh tapi kok jadi banyak ikan berdatangan ya berebut sesuatu berwarna coklat yang berasal dari perut saya. Hihihi....

Teman-teman di dalam kapal memijit leher dan punggung saya sambil menyodorkan obat, entahlah obat apa. Setelah minum obat saya tergolek tidur di lantai kapal dan tidak tau lagi apa yang terjadi. Saya dibangunkan setelah sampai di Pulau Sebesi. Baju sampai kering dengan sendirinya. Beginilah enaknya pergi bareng orang farmasi, gangguan sedikit langsung dikasih obat. Cihuuyy...

Setelah beres-beres ke homestay dan makan siang, kami siap-siap kembali ke dermaga canti dan mengakhiri liburan yang memabukkan itu. Perjuangan naik kapal belum juga usai. Masih harus melaut 1.5 jam lagi. Alhamdulillah sampai di dermaga canti hanya pusing sedikit tidak sampai tumpah. Lalu kami naik angkot yang kami sewa sebelumnya, kali ini terpaksa ditumpuk-tumpuk karena ada 5 teman yang tidak kebagian angkot. Sepanjang jalan badan susah bergerak, kaki kesemutan, ketindihan sana-sini tapi semua itu tidak mengurangi keseruan kami sampai ke pelabuhan bakauheni.

Perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik kapal roro Bakauheni - Merak, seperti biasa saya tidur disepanjang perjalanan apalagi kali ini seharian tenaga telah dikuras untuk mengeluarkan bom. Tentunya makin mendalami mimpi di alamnya. Kapal kami sempat berhenti di tengah laut karena antri dermaga sehingga sampai di pelabuhan merak terlambat sampai 2 jam. Jam 24.00 akhirnya selesai juga kisah kelautan pada hari itu. Perjalanan ke anak krakatau begitu mengesankan bagi saya sekaligus bikin kapok untuk naik kapal kayu lagi, ampun deh.