Jun 30, 2016

Bila Memang Harus Berpisah

June 30, 2016 0 Comments
Berpisah sering kali menjadi hal yang sangat menyedihkan. Bukan hanya dengan seseorang, bisa juga dengan piaraan kesayangan  atau barang berharga tanda kasih sayang atau apapun yang melekat dihati. Seakan separuh jiwa sirna ditelan bumi, pikiran melayang bagai layang-layang putus dari benangnya. Walau berat tapi harus dilalui demi ketenangan jiwa yaitu memahami rasa ikhlas. Yak elah apaan sih sotoy saya bukan bahas tentang perpisahan, ini semata-mata latah nulis sambil dengerin lagunya Isyana Sarasvati yang judulnya "Tetap Dalam Jiwa". Sejujurnya sih pengen nulis tapi bingung mo mulai dari mana. Yo wes yang mengalir aja seadanya, di lapak sendiri kan suka suka, ga ada aturan.

Baiklah mungkin yang masih ada hubungannya dengan perpisahan dan juga masih rada anget saya mo cerita tentang pil pahit yang harus ditelan saat di Cappadocia, orang sono bilangnya kapadokya. Ada berpisah-berpisahnya juga kok, ada...

Kami datang ke Cappadocia dengan bus malam dari Antalya. Busnya keren ada pramugara gantengnya secara orang Turki memang dikutuk jadi orang cakep. Udara di Turki bagian selatan masih teramat dingin walau sudah masuk ke musim semi. Sehingga saat turun dari bus saya merasa ditampar pake es berkali-kali, mak bbrrr... Beda dengan si partner yang biasa tinggal di dalam kulkas, segitu dinginnya masih bisa pake baju letbong ditutup pashmina atau kardigan. Emang ga salah kalau disebut manusia kutub.

Dari otogar (terminal) kami menuju ke hotel yang telah kami booking sebelumnya dengan bantuan google map. Pagi itu masih sepi hampir ga ada orang. Bingung bolak-balik beberapa kali karena hotelnya ga meyakinkan, ga ada petunjuk apapun, ga ada orang dan pintunya tertutup rapet.

Beruntung datang Tiara dan Mbak Anisah teman segrup yang berangkat duluan. Mereka baru pulang dari naik balon udara (Hot Air Balloon). Kami booking di hotel yang sama. Akhirnya mereka bantu ngetok pintunya abang resepsionis yang masih bobok. Sambil kriyip-kriyip si abang bilang "Okey masuk kamar aja". Padahal belum waktunya check in. Ekspresinya datar cuek kelihatan seperti judes tapi baiknya kebangetan.

Selesai beberes badan ngebuang daki dari Antalya, kami berdua disuruh breakfast bareng Tiara dan Mbak Anisah. Hotel ini baik banget. Pelayannya cantik mirip Elvi Sukaesih sewaktu muda. Tapi kalau ga berkedip jadi mirip Suzana, serem-serem gimana gitu, ga ding biasa aja. Karena mbaknya ga bisa bahasa linggis, jadi cuma ngliatin aja. Kalau lagi kontak mata ya bertukar senyum. Apalagi disapa pake kata "Martabaak..." pasti akan jawab "Merhabaa..." yang artinya "Halloo..."

Pagi itu cuaca di Cappadocia bener-bener galau seakan mengerti perasaan para jomblo. Baru juga keluar sebentar lihat bebatuan yang bentuknya lucu-lucu khas Cappadocia, tiba-tiba turun hujan. Cuma kipyik-kipyik ga gitu deres tapi disertai pasir-pasir putih yang ternyata butiran es. Sebentar hujan sebentar terang. Begitu aja seharian. Berhubung udara juga masih berasa seperti winter sehingga paling nyaman ya nongkrong di cafe buat ngangetin badan.

Doa kami saat itu, gapapa hujan seharian, tapi tolong Ya Allah besok pagi berikan cuaca yang bersahabat karena jadwal naik balon. Pliiss jangan hujan. Tujuan utama ke Cappadocia pengen ngrasain naik balon gede yang ada obornya itu. Sudah booking jauh-jauh hari sebelumnya. Katanya akan dijemput sekitar jam 04.00 pagi di hotel. Tak lupa sebelum meringkuk ke dalam selimut memasang alarm agar esok paginya ga ketinggalan jemputan.

Jam 03.45 suara alarm membuyarkan mimpi. Selimut hangat terpaksa disingkap dan bersiap-siap membaur ke udara bersuhu 5 derajad menurut website. Kalau bukan karena balon sih mending ngelanjutin bobok.

Setengah jam berlalu jemputan belum juga datang, masih bersabar hingga 15 menit berikutnya. Positif thinking masih menjemput yang lain. Tapi kok langit semakin terang belum datang juga, keanehan mulai terasa. Sensasi naik balon kan sambil lihat sunrise, ini udah mau sunrise kok belum dijemput? What happen? Ketipu agen? Oh tidak, adek ga bisa diginiin bang...

Kami bangunin abang resepsionis yang masih pules, minta tolong tanyain apa yang sebenarnya terjadi. Abang baik yang ganteng itu pun langsung bantu menelpon ke agen balon sambil kucek-kucek mata.

"Apa katanya bang?"
"Today is nothing balloon flight"
"WHAAAT...!!! Maksud Abang???"

Lemes mewek tapi ga keluar air mata. Kapan lagi bang, besok pagi tiket promo buat balik ke Istanbul sudah confirmed. Kalau reschedule sehari lagi, mahalnya selangit. Dah gitu yakin cuaca bakalan bagus, kalau sama aja gimana? Nyungsep di kasur selimutan sampe ketiduran lagi trus kya ada yang bisikin besok-besok mending bawa balon sendiri aja...

Setelah breakfast makan roti segede balon (bosen sih kangen soto), kami dijemput abang ganteng yang mau ngajakin tour. Beli paket green tour karena kalau dihitung-hitung lebih murah dari pada jalan sendiri. Belinya bisa pesen lewat hotel atau beli ke agennya langsung. Banyaaakk tinggal pilih, macemnya juga banyak ada green, red, blue, highlight tour dan lain-lain. Kami berminat ikut green tournya aja, yaitu ke Ihlara Valley, Selime Monastery dan Derinkuyu Underground City. Kalau ga tau itu tempat apa ya browsing aja di google seabreg. Start dari jam 10.00 sampai jam 18.00. Harganya 100 TL all in, including makan siang.

Kebayang ya ikutan tour mah sudah pasti duduk manis semua dilayanin kya princess. Hilang sebentar dicari, dikasih minum mulu ga boleh haus, pokoknya disayang-sayang deh, jadi ga usah diceritain. Yang pasti adek aman-aman aja. Hanya pas pulangnya modem wifi yang dicharge di mobil ketinggalan karena partner lupa nyabut. Tapi baik banget malemnya diantar ke hotel. Terharu.

Balik ke hotel packing buat besok karena akan dijemput shuttle ke airport jam 05.00 pagi. Sambil ngedoain jelek semoga besok pagi hujan biar ga ada balon lagi, biar ga nyeseg maksudnya hehhe... (jangan ditiru). Eh apa kata dunia, ternyata paginya cerah langit bersih banyak bintang-bintang. Saat jemputan datang mulai deh nongol tuh balon satu per satu dan makin banyak. Hastagaah...!!! Gigit sendal dari dalam mobil.

Karena masih jemput kesono kemari trus ada turis China yang masih pake blush on lama banget jadinya kami semua telat ke airport. Tinggal tersisa 1 jam buat cek in. Ndilalah antrian x-ray di pintu masuk juga panjang banget. Sudah ga dapet balon kan ga lucu kalau sampe ketinggalan pesawat. Ga kalah panjang juga antrian check in nya. Olalaa...

Giliran partner nyodorin paspor, petugas tampak membolak-balik mencari sesuatu.

"Surname?"
"No, I have no surname" jawab my partner yang namanya memang cuma satu kata.
"Control first over there"

Lah maksudnya apa? Partner saya selama ini pernah keliling ke 4 benua ga masalah dengan namanya yang hanya 7 huruf. Beberapa hari sebelumnya naik airlines yang sama juga ga masalah. Sebentar lagi boarding bok. Plisss jangan sampe ada nyeseg yang keberapa di Cappadocia. 

Kami ditunjukkan penumpang lain yang lancar bahasa Inggris ke sebuah loket yang antriannya lumayan panjang. Partner berdiri diantrian paling belakang. Saya merhatiin petugas di loket yang lelet banget ketak ketik di komputernya, sambil nelpon. Sesekali melirik ke antrian check in yang mulai terurai. Coba ngrecokin antrian di depan.

"Om boleh saya duluan ga, pesawat saya udah mo berangkat" semua cuma dadah-dadah ga ngerti. 

Makin lama antrian di check in habis dan partner belum juga dapet giliran. Saya lari ke tempat check in sambil gendong ransel segede bantal, nyamperin mbak yang lagi ngobrol ama temennya di loket sebelah.

"Sorry, wait us please, my friend has a problem with her name"
"Okay waidhess"
"WHAT?"
"Waidhess"
"WHAT?"
"WA-I-TING madam"
Telinga saya tiba-tiba mampet harus diulang tiga kali.
"Okey thank you, tessekur ederim, tessekur" gegayaan pake bahasa Turki.

Terlihat partner masih ngobrol dengan petugas di loket yang sebelumnya, entah apa yang terjadi kemudian paspor dibalikin dan lari menyusul saya. Tanpa ngobrol lagi paspor diberikan ke petugas check in lalu kami diberi boarding pas.

"Boarding right now" kata petugas.
"Okay"

Tiba-tiba di pintu x-ray partner tertahan lagi, pintunya bunyi tuit tuit tuit... 
"Apalagi sih lo?"
"Oh.. gw pake gelang kaki"
Gelang kaki udah dilepas eh masih bunyi lagi tuit tuit tuit...
"Kenapa lagi...?"

Akhirnya paspor coba dipegang petugasnya dan partner coba melenggang, barulah tuh alarm diem. Kenapa ya.. Mbuh lah ADA ADA AJAA...!!!

Di waiting room sudah tidak ada orang satu pun. Semua sudah masuk ke pesawat. Kami terbirit seperti mengejar angkot. Di dekat pesawat ada petugas yang melambaikan tangan sambil teriak "Istanbul Istanbul.." Kami masuk dari pintu belakang. Ternyata semua sudah duduk manis dan dibagikan permen oleh mbak pramugari yang sanggulnya bulet seperti donat. Beberapa menit kemudian saat kami masih menarik nafas, pintu ditutup dan pesawat mulai bergerak. HAAAHH...

Seperti mimpi bener gak ya kita udah naik pesawat? Nyandarin kepala sambil merem-merem gak jelas, terbayang kalau airportnya kya KLIA 2 yang luasnya segambreng apa jadinya. Melirik ke partner.

"Gw laper"
"Sama"

Jun 12, 2016

Go Back

June 12, 2016 0 Comments
Biarpun pejalan yang penuh pengiritan tapi saat itu kami tidak bermaksud mencari gratisan. Akibat ketidakmahiran dalam membaca peta sehingga peta dari Information Center tidak banyak membantu. Tujuan kami adalah ke Ayasoluk Castle yaitu benteng kuno peninggalan jaman romawi yang berada di atas bukit Ayasoluk tidak jauh dari penginapan. Berdasarkan pengamatan tinggal lurus aja, tapi saat mulai mendekat yang ada malah nyasar ke rumah penduduk semakin mendekat semakin masuk ke pemukiman.

Disaat kebingungan melanda, lewatlah seorang kakek berparas ganteng (jaman mudanya pasti lebih ganteng). Kami berharap beliau bisa menjelaskan jalan yang benar menuju reruntuhan benteng itu.

"Kakek kalo mau ke Ayasoluk lewat jalan ini bukan?" tanya saya pake bahasa sehari-hari.
"Yes" kakek langsung paham entah memang bisa bahasa Jawa apa karena bahasa isyarat saya yang menggemaskan.

Lalu kami jalan naik ke undak-undakan sempit berdasarkan petunjuk dari kakek. Undak-undakan curam itu menghubungkan ke sebuah jalan yang sedang dalam renovasi yang sepertinya akses menuju ke Ayasoluk Castle dan terhubung dengan pintu masuk. Tumpukan paving block dan beberapa gundukan pasir berserakan dipinggirnya. Garis pembatas plastik lorek hitam kuning dibentangkan memanjang memisahkan antara pemukiman penduduk dan area benteng.

"Nah ini dia jalannya Mel" seru saya menyemangati diri sendiri dan Amel sambil mengatur nafas.
"Tapi kok dipagerin, boleh masuk ga ya?"
"Iya ya, ga ada orang sih, kita langkahin aja, kalo dimarahin ntar kita balik"
"Trus pintu masuknya mana?"
"Lo nanya gw, gw nanya ke siapa?"
"Ga jelas banget sih kita"
"Ya udah kita foto-foto dulu aja disini, tampaknya okey juga" ajak saya ke Amel sambil mencoba memanjat bebatuan yang berada diantara pager. Saya pikir dibalik batu itu ada jalan ternyata hanya semak belukar bercampur bunga liar warna warni.

"Kimchi diliatin orang!!" Amel biasa memanggil saya dengan nama makanan khas Korea.
Beberapa pekerja tampak memperhatikan kami dari kejauhan, tapi tak bereaksi apa-apa lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Gapapa kali kita cuma mo numpang foto sebentar, salah sendiri petunjuknya ga jelas, kita kan mau masuk lagi nyari jalan".

Tempat yang membingungkan tapi lumayan bagus buat memilih angle, dinding Ayasoluk Castle bisa tampak secara keseluruhan dipercantik dengan bunga-bunga liar yang bermekaran di bawahnya. Namun sayang dinding sebelah kanan banyak rangkaian besi dan kayu yang didirikan dalam rangka renovasi sehingga sedikit mengurangi keindahan.


Ayasoluk Castle - Go Back View I

Bunga-bunga liar

Saat kami asyik foto-fotoan dengan berbagai gaya tiba-tiba Amel mendengar suara gaib yang berasal atas. Seperti bisikan cinta yang ingin mengingatkan keberadaan kami. Semakin didengerin semakin jelas.

"Kimchi ada yang teriak-teriak"
"Mana?" saya melihat ke sekeliling tidak ada orang selain pekerja yang tidak peduli.
"Itu dari atas"
"Atas mana?" saya masih belum percaya karena hanya mendengar suara jangkrik.
"Dari sini kelihatan"

Saya keluar dari semak-semak bunga liar dan mencoba melihat ke arah yang tunjukkan oleh Amel. Ternyata benar di kejauhan ada sosok memakai seragam hitam putih lengkap dengan dasinya, berteriak sambil mengacungkan tongkat metal detektor.

"GO BACK...!! GO BACK...!!" teriakannya semakin diperjelas setelah saya nongol.

"OKAAYY...!!!" nah lo ga boleh kan ternyata.

"Sini gw fotoin cepetan bergaya" Amel belum sempet berfoto tadinya masih sibuk motoin saya. Nasib deh giliran dia kena go back.
"Gaya nunduk... Nengok... Tangannya disaku ngliat ke atas... ke belakang... ke samping... Okeee..." pose Amel paling ya itu itu aja, kalo udah lengkap berarti pemotretan selesai.

"GO BACK...!! GO BACK...!! suara gaib itu terdengar lagi. "Bandel banget sih itu anak" mungkin gitu dalam hati bapak berdasi itu.

"OKAAY OOOM... OKAAYY...!! Let's Go... Kami segera meninggalkan tempat itu yang ternyata banyak rumput berduri. Clekit-clekit gatel kalau kena kaki. Lumayan sudah ada beberapa koleksi foto yang tersimpan di memory card. Belakangan baru terpikir, untung ga ada ular ya hiiyyy...

Kami kembali lewat jalan yang dilewati sebelumnya mencari pintu masuk yang benar. Kira-kira 200 meter kemudian ada belokan jalan nanjak dengan petunjuk papan kecil diantaranya "St.Basilica dan Isabey Camii" lengkap dengan tanda panahnya. Berdasarkan kira-kira kami menapaki jalan itu dan ternyata memang benar disitulah pintu yang sebenarnya. Disambut dengan loket berderet tempat penjualan tiket. Harga tiket 15 TL tapi kami sudah mengantongi kartu sakti Turkey Museum Pass sehingga tidak perlu membeli tiket lagi. Tinggal di"tap" dan pintu terbuka sendiri.

Pertama melangkahkan kaki saya mencari sosok "go back" diantara beberapa petugas yang berjaga. Tadinya dari kejauhan terlihat seperti seorang kakek, tapi yang kami lihat saat itu bapak-bapak tinggi dan gagah. Yang pasti saya ingin menunjukkan diri agar mister "go back" mengerti bahwa kami sebelumnya pakai acara nyasar bukan berusaha nyelinap.


Teriak GO BACK......!!!

Selanjutnya kami lebih berhati-hati saat mencari angle agar tidak mendengar suara gaib lagi. Seperti saat di Kusadasi, kami bermaksud mencari jalan pintas untuk mendekati kapal pesiar gede yang lagi nongkrong di pelabuhan. Jauh lebih gede dari pada gedung di sebelahnya. Masuklah kami ke sebuah lorong yang tampak tak begitu rame kanan kiri banyak meja dan kursi. Ternyata itu adalah restoran mewah dengan view ke dermaga.

"Hello welcome..." sapa petugas ganteng yang hanya kami balas dengan senyuman manis.
"Emang kita mo makan disini Mel"
"Ga lah jelas mehong disini, kita numpang lewat ke belakangnya kyanya ada jalan tembus" dasar nekad.
"Hati-hati kena go back"

Dan ternyata itu jalan buntu tidak tembus kemana-mana. Hanya view memanjang di belakang restorannya horang kayah itu. Baiklah kami Go back sendiri secara teratur.

Sore hari jam 19.00 matahari saat itu masih terang benderang seperti jam 16.00 kalo di Indonesia, kami baru pulang dari Sirince. Melihat dunia yang masih terang kami masih melanjutkan jalan-jalan di kota Selcuk. Tapi tidak bisa ke tempat yang terlalu jauh, karena nanggung sebentar lagi maghrib dan susah angkutan umum.

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke kuburan yang masih agak dekat dari penginapan. Nah kok ke kuburan, mau cari apa? Ga cari apa-apa, beberapa kali lewat di depannya sepertinya bagus banyak bunga bermekaran di atas nisan-nisan. Tadinya takut ga boleh masuk, bahasa kerennya kena "go back" lagi. Ternyata masuk masuk aja entahlah ada petugasnya apa ga, disitu juga ada beberapa orang yang lagi ziarah. Pastinya sih ga ada turis selain kami berdua.

Kirain namanya Ruhuna Fatiha, ternyata semua nisan bertuliskan itu.

Bunganya bagus-bagus

Baru seminggu meninggal

Kami muter-muter di antara nisan sampai menjelang sunset. Ternyata masih luas, yang terlihat dari jalan hanya satu blok saja. Masih ada beberapa blok lagi yang di payungi oleh pepohonan rindang. Bunga-bunga di atas nisannya juga lebih bagus. Tapi melihat dari kejauhan aja rasanya merinding ditambah lagi sinar matahari mulai meredup. Bisa-bisa diteriakin go back ama yang ga kelihatan. Aauuw pulang ah.. Laper.

Keesokan harinya jam 08.15 kami cek out dari hotel dan melanjutkan perjalanan ke Pamukkale. Masih ada waktu 15 menit untuk menuju ke otogar (terminal). Kami sudah membeli tiket bus yang paling pagi sehari sebelumnya. Rupanya bukan bus besar yang akan mengangkut kami, tapi digabungkan dengan mobil privat tour yang hanya berisi 3 orang. 2 orang peserta tournya 1 orang lagi sepertinya penumpang titipan seperti kami. Sepanjang jalan mbak guidenya bercerita ke peserta tournya yang agak bawel nanya-nanya mulu, lumayan kami bisa nguping.

Dibanding naik bus, mobil ini jalannya juga lebih cepat. Sepertinya tidak ada bus yang sampai di Pamukkale, semua hanya sampai di terminal Denizli dan nyambung lagi dolmus ke Pamukkale. Beruntungnya pagi itu kami diturunkan di Pamukkale depan pintu masuk ke Travertine.

Kami tidak akan menginap di Pamukkale sehingga sebelum jalan-jalan kami membeli tiket ke Fethiye sambil menitipkan tas di kantor agen bus. Beres urusan tiket kami siap mengeksplor travertine atau istana kapas yang membentang luas sebukit. Sekilas tampak seperti salju tapi bukan yaitu batu mineral karbonat. Di tengahnya ada sungai kecil berisi air hangat.

Saatnya kamera beraksi. Masih di dekat pintu masuk, saya mulai berpose duduk agak ke atas dan Amel menjepret saya berkali-kali. Sempat was-was dilarang naik disitu. Tapi petugas yang di dekat saya hanya melihat sekilas saja. Artinya masih diijinkan. Ya memang hanya naik sejengkal sih ga sampe ke atas banget.


Di travertine, duduk disini masih okey - Go Back View II

Giliran Amel yang berpose, saya gantian ready dengan kameranya. Mungkin tidak ingin tempatnya sama dengan saya jadi naik sedikit ke dekat dinding. Baru juga mau berpose tiba-tiba teriakan gaib terdengar lagi.

"Priitt priiitt.. GO BACK...!!"

"Hahahaa... Go back Mel Go back... Lo lagi yang kena ya bukan gw hahahaa..."

Jun 3, 2016

Gagal Fokus

June 03, 2016 1 Comments
Selama di Turki banyak yang membuat saya meleng alias gagal fokus. Di kereta, di bus, di pasar, di jalanan bahkan di pinggir kali sekalipun. Sebenarnya hanya tentang satu hal tapi jumlahnya banyak yaitu si ganteng nan bening. Ibarat air yang langsung diambil dari sumber di pegunungan bebas polusi, jadi seger banget.

Mulai terlihat sejak keluar dari Airport. Hampir semua sudut bikin mata jelalatan. Enaknya mau dibahas sekenceng-kencengnya juga mereka ga bakal ngerti. Untunglah saya pergi bareng Amel jadi ga perlu dipendam sendiri. Seperti saat di dalam metro...

"Mel lo jangan langsung nengok ya, itu yang di belakang lo pake baju putih bening bangeeett..." sambil pura-pura memandang ke arah lain.
"Woow iyaaa... Yang coklat di sebelahnya juga, yang kotak kotak juga..."
"Iya bener... Betah gw lama-lama disini"
"Gw juga betah"
"Pemandangannya bagus ya"
"Ga usah pulang deh kita"

Lain lagi saat kami masuk ke pasar tradisional di Alacati, hasil kebunnya memang bagus, sayur dan buah-buahan. Tomat, cabe, paprika, cerry, lemon hampir semua kualitas super dan harganya jauh lebih murah dibanding di Jakarta. Sepanjang jalan bikin melongo. Tapi obrolan saya dan Amel jadi ga nyambung.

"Bagus-bagus banget ya..." kata Amel sambil tak henti memainkan kameranya.
"Iya Mel Masya Allah, kok ada sih orang kya gitu"
"Kok orang sih, maksud gw paprika, lo ngliatin apanya?"
"Penjualnya"
"Astaga"
"Dari tadi merhatiin sampe tukang sampah aja cakep"
"Lo pilih-pilih dikit kek"
"Gw sih yang kelihatan aja"

Bukan hanya kami yang terheran-heran melihat mereka, mereka pun banyak yang curi-curi pandang layaknya ada selebritis karena muka kami disana termasuk asing. Kalau di negeri sendiri boro-boro dilirik orang, di Turki berasa laris manis apalagi di kota-kota kecil. Banyak yang tiba-tiba kasih senyum ramah atau sekedar say hello. Sebenarnya pengen ngobrol tapi terkendala bahasa. Kecuali pedagang yang baik karena ada maksud, tapi tetep ramah ga maksa, kalaupun ga jadi beli juga ga marah.

Saat di Fethiye kami sedang di pinggir jalan menunggu dolmus ke Oludeniz. Tiba-tiba ada cowok bening banget sambil nenteng buku, langsung deh mengalir obrolan karena gantengnya rada kelewatan.

"Mel ini yang di depan gw ganteng banget sih..."
Eh tiba-tiba tuh cowok malah nyamperin
"Where are you from?"

Katanya sih student ekonomi. Udah ganteng rajin belajar pula, gimana ga bikin deg-degan. Tapi sayang kami beda tujuan dan si ganteng dolmusnya datang duluan. Coba kalau searah... Ah!! Anda belum beruntung.

Belum lagi mas-mas yang di restoran atau di hotel. Itu sih sampe ga ada kata-kata lagi saking cakepnya. Subhanallah... Terbuat dari apa siiiih???

Alhamdulillah tidak ada yang jahat malah baiknya pada kelewatan. Tanya jalan tiba-tiba dikasih donat. Saat kepisah dengan Amel nanya kereta malah dibayarin. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya kehabisan dolmus di Ephesus tiba-tiba dikasih tumpangan. Belum lagi di hotel Goreme datang kepagian langsung dikasih kunci dan disuruh sarapan. Masih banyak lagi kebaikan-kebaikan penduduk lokal selama di Turki. Turki bener-bener bikin gagal move on. Semoga suatu saat bisa kembali lagi. Mau ikut?

Jun 2, 2016

Wisata Reruntuhan Di Ephesus

June 02, 2016 1 Comments
Saya dan Amel batal keliling Selcuk dengan menyewa motor karena beberapa jalan utama ditutup untuk acara bike festival. Sejak hari pertama datang itinerary kami mulai kacau karenanya. Walaupun akhirnya tempat-tempat yang utama pengen kami datangi, terjabanin semua.

Sore pertama kami menghabiskan waktu di Ephesus, yaitu komplek reruntuhan sisa-sisa dari sebuah kota kuno di jaman Romawi yang keindahannya masih tergambar dengan jelas. Bisa dijangkau dengan naik dolmus (angkotnya Turki) dari otogar (terminal) dengan ongkos 2.5 TL. Harga tiket masuk 20 TL. Kami membeli paket Turkey Museum Pass seharga 185 TL yang bisa digunakan hampir ke semua museum di Turki selama 15 hari. Bisa beli di loket museum-museum besar dengan menunjukkan paspor.

Sepanjang menyusuri reruntuhan tak hentinya membayangkan betapa megahnya dulu kota ini. Ribuan tahun yang lalu aja sudah bisa bikin bangunan sehebat ini. Luar biasaa. Orang jaman dulu cerdas banget. Bisakah dibenerin lagi? Rasanya mustahil karena terlalu luas dan megah.

Bangunan yang kemegahannya masih terlihat hingga sekarang diantaranya adalah Grand Theater yaitu undak-undakan tempat duduk balkon 3 tingkat. Seperti stadion separuh lingkaran dan tengahnya terdapat panggung pementasan. Konon ini adalah tempat diadakannya pertunjukan seni, pementasan drama dan juga adu gladiator dengan binatang.

Tak jauh dari Grand Theatre terdapat Celsus Library yang masih menyisakan pilar-pilar kokoh dan megah terbuat dari batu granit. Satu pilar dirangkul 2 orang belum cukup saking besarnya. Dinding di bagian luarnya dihiasi dengan ornamen patung dewa dewi yang bagus berukuran lumayan besar. Konon ini merupakan perpustakaan terbesar ketiga dimasa itu yang memiliki 12.000 pcs roll buku. Jaman dulu buku berbentuk gulungan.

Patungnya sedih "Melihat kalian sakitnya tuh disini..."

Selain dua tempat diatas masih banyak lagi reruntuhan menarik lainnya diantaranya House On The Slopes (sedang renovasi), Temple Of Hadrian, Temple Of Domitian, Water Palace, Odeum dan Prytaneion. Memang lebih baik menyewa tour guide biar dijelaskan satu per satu. Jangan seperti saya hanya modal browsing. Seharian belum tentu terkupas semua karena komplek ini luas sekali. Daripada penasaran saya membeli buku di abang-abang penjual souvenir.

Ada kejadian lucu, beberapa kali ketemu rombongan wisatawan dari Indonesia. Banyak ibu-ibu jalan kepleset sambil ngomel-ngomel "Apaan sih cuma lihat batu kya gini, mending shopping" Ya iya lah tante lagian ke tempat begini pake high heels, kya saya donk sendal jepit hahaha... Memang komplek ini hanyalah reruntuhan batu yang tak beraturan. Kurang menarik buat yang hobbynya belanja ke mall.

Lebih dari 3 jam kami menyusuri reruntuhan Ephesus dan pastinya tidak menjangkau semuanya karena matahari keburu tenggelam. Selain kaki juga rasanya berdenyutan.

Kami kehabisan dolmus untuk kembali ke kota. Beberapa sopir taksi menawarkan 10 TL tapi rasanya enggan untuk mengambilnya. Masih berat untuk beranjak seketika dari komplek ini. Kami memilih jalan kaki pelan-pelan sambil berharap ada dermawan yang bersedia memberi tumpangan. Sempat terpikir untuk nebeng bus wisata, tapi masih lama menunggu wisatawannya kembali.

Baru beberapa langkah dari parkiran tiba-tiba melintas sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang kakek. Saya sengaja menatap sang kakek dalam-dalam berharap diajak. Dan benar saja...

"Where are you going?" teriak sang kakek dari dalam mobil.
"Selcuk"
"Come in, I'm not teroris..."

Alhamdulillah akhirnya dapet tumpangan juga. Sepanjang jalan kakek bercerita tentang Ephesus dan perkebunan sayur serta buah-buahan yang berada di kanan kiri jalan. Dari cerita kakek makmur sekali tanah Selcuk ini. Sejak jaman Romawi hingga sekarang.

Sebelum turun kakek memberi kami jeruk gede yang berserakan di mobilnya. "This is Turkish orange, fresh and sweet". Masya Allah baik sekali kakek, thengkyu thengkyuu...


Di dalam mobilnya kakek

Jun 1, 2016

Cari Majikan Di Abu Dhabi

June 01, 2016 0 Comments
Suatu hari saya naik pesawat milik Uni Emirat Arab dan transit di Abu Dhabi. Mendengar kata Abu Dhabi pikiran melayang ke beberapa tetangga yang menjemput rejeki di negeri padang pasir itu. Banyak diantara mereka rela berjauhan dengan sanak family dan mengadu nasib disana atau memboyong keluarganya sekaligus. Tak heran jika di ruang tunggu beberapa kali bertemu dengan rombongan yang akan kerja di Abu Dhabi, terdengar dari obrolannya. Hihi ketauan nguping kan...

Pagi itu pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur mendarat di Airport Abu Dhabi sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Luas dan ramai sekali airportnya sehingga memakan waktu yang lumayan lama sejak pesawat landing sampai semua penumpang tiba di gedung terminal. Selesai pemeriksaan di pintu transit saya ke mushola untuk sholat subuh. Saya kelupaan mukena dimasukkan ke bagasi sehingga memakai mukena yang tersedia di mushola. Selesai sholat sudah ada ibu-ibu dengan logat melayu yang sudah menunggu mukena yang saya pakai.

"Silahkan..." kata saya kepada beliau.
"Makaseh.. Dari Malaysie?"
"Bukan, saya Indonesia"
"Oo.. kerje disini"
"Tidak, saya transit aja..."
"Ooo..."

Sepertinya beliau kerja atau ikut suaminya di Abu Dhabi. Saya dikira serupa... Itu cerita saat pertama kali transit di negeri onta.

Kedua kalinya ketika saya akan kembali ke tanah air dari Istanbul. Kali ini pesawat landing saat matahari terbenam di Abu Dhabi. Saya ke mushola untuk sholat maghrib. Bertemu seorang ibu yang tampak kebingungan. Tangan kiri mendorong troli berisi beberapa tas dan tangan kanan memegang paspor dengan boarding pass yang terselip di dalamnya.

"Mbak dari Indo juga kan?"
"Iya bu"
"Mau ke Jakarta naik Etih*d juga?"
"Iya"
"Sama kita bareng ya, yang mana ya pintunya?"
"Coba lihat boarding passnya bu"
"Ini saya ke Singapur dulu"
"Ouw saya langsung Jakarta bu gak ke Singapur, pesawat kita beda saya nanti jam 2"
"Oh beda ya saya sebentar lagi, trus saya harus kemana?"
"Ibu di terminal 3, nanti cari gate 4, lihat dari tulisan kuning yang diatas itu" kata saya sambil menunjuk ke papan gate yang banyak terpampang.
"Oo iya, tinggal perhatiin papan kuning itu aja ya"
"Iya bu ati-ati ya..."

Saya ingin melanjutkan niat ke mushola tapi tampaknya ibu masih menghentikan langkah saya.

"Tadi temen saya kasian lho mbak, bagasinya gak dinaikin ama majikannya hampir ketinggalan, untung punya saya dinaik-naikin" curhat.

Sambil mikir, dinaikin ke mobil apa ke pesawat ya? Apa gak dibeliin bagasi? Ah entahlah ngapain saya ikut pusing...

"Ouw gitu, trus gimana jadinya bu?"
"Jadi dinaik-naikin sendiri"
"Oh syukurlah"
"Trus tadi mbak gimana, dianterin gak ama majikannya?"

Mak JLEBB!!! Gedubrraaakkkk. Antara bingung pengen ketawa, percaya gak percaya. Kalau di film kartun ekspresi saya yang mata melotot sampai mencelat keluar trus ngglinding ke selokan. Berhubung ibu masih penasaran nungguin jawaban, ya mengalirlah jawaban seadanya...

"Iya bu tadi saya dianterin..." sambil mengangguk dan tersenyum maksa.

Sampai di toilet tak hentinya memandang diri di kaca, berarti tampang kya saya ini cocoknya punya majikan di Abu Dhabi ya, baiklah segera browsing cari lowongan...