My life isn't perfect, but I'm thankful for everything I have

Lapangan Merah Moskow

Perhelatan akbar Piala Dunia 2018 di Rusia baru saja selesai digelar. Perancis berhasil mengalahkan Kroasia di babak final dengan skor 4-2. Griezmann dan Mbappe adalah pemain yang turut memberikan goal sehingga Perancis keluar sebagai juara dan memboyong piala yang mirip paha ayam goreng ke rumahnya. Saya sebenarnya kurang mengerti tentang bola. Hanya karena tempat yang pernah saya datangi sering disebut dan muncul di TV. Jadilah merindukan moment yang pernah saya lewati 10 bulan yang lalu di tempat itu yaitu Red Square atau Lapangan Merah. Apa saja yang saya lakukan disana? Tidak ada, hanya berfoto dan selebihnya people watching.

Lapangan merah adalah alun-alun di Moskow yang menjadi lokasi sangat penting untuk dikunjungi. Banyak tempat bersejarah di sekitar lapangan yang sebenarnya tidak berwarna merah ini. Pada bagian depan terdapat bangunan kokoh berwarna merah yang merupakan Museum Sejarah. Di sebelah kanan terdapat dinding Kremlin dan menara menjulang tinggi berwarna merah, dibawahnya terdapat Mausoleum Lenin. Tempat disemayamkannya jenazah pemimpin revolusi Rusia yaitu Vladimir Lenin. Sebagian besar pejabat dan tokoh Soviet mendapat kehormatan untuk dimakamkan di depan tembok Kremlin. Seperti Josef Stalin, Yuri Gargarin dan Maxim Gorky. Konon orang terakhir yang dimakamkan disana adalah Pemimpin Soviet Konstantin Chernenko pada tahun 1985. Di sebelah kiri lapangan terdapat pusat perbelanjaan tertua dan paling indah di Rusia yaitu GUM. Sementara di ujung paling belakang terdapat Katedral St. Basil dengan kubah warna warni yang bentuknya menyerupai es krim. Sering kali foto gereja ini menghiasi kartu pos dan segala macam merchandise dari Rusia.

Pada musim Piala Dunia lapangan ini sering dipakai untuk melaporkan hasil liputan para reporter, selain dari stadion tempat pertandingan.


Katedral St. Basil
Biasanya hanya melihat gambarnya di majalah, iklan travel tour dan merchandise dari Rusia. Kali ini saya berdiri di depannya, kya mimpi-mimpi gimana gitu...


Museum Sejarah
Pertama kali melihat bangunan ini terbayang perang jaman dulu, sok drama banget.


Mall GUM
Terkesima dan penasaran seperti apa sih dalamnya? Pasti prestisius dan mahal-mahal.

Bagian dalam Mall GUM
Tadinya saya dan Mbak Anna Khristy akan makan disini di restoran yang direkomendasikan oleh temannya Mbak Anna. Ternyata selain antriannya bejibun juga ada menu pork, jadi saya pindah haluan cari menu yang lain. Mbak Anna tetap setia antri karena penasaran. Saya membeli roti dan semangka potong segelas dibawa ke restoran biar makan bareng. Sempat khawatir, takutnya dari beberapa tulisan yang dipasang ada yang artinya "Dilarang membawa makanan dari luar". Tapi ya mbuhlah tulisannya kriting semua. Biar tak begitu mencolok saya duduk di kursi yang di luar. Saat makan perasaan kok dilihatin terus oleh orang-orang. Baik yang lewat maupun yang duduk di sebelah. Kebetulan kami duduk di dekat eskalator dan dilewati banyak orang. "Kenapa sih orang-orang ini dari tadi ngliatin aja" Mulai deh merasa bersalah dan berandai-andai, pasti karena membawa makanan dari luar. Lama-lama mikir juga, ya iyalah muka saya kan termasuk asing. Jarang-jarang orang berhidung pesek makan disini. Apalagi yang pakai kudungan bergo made in Garut disini ya hanya saya. Kalaupun ada yang kudungan paling nenek-nenek dan hanya diikat seperti kudungnya Masha. Aaaahh mulai deh ada rasa-rasa GR sok jadi selebritis...
Share:

No comments:

Post a Comment

Tolong jangan spaming ya Kisanak. Kasih masukan agar saya banyak belajar lagi. Semoga kita semua dimanapun berada selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiinn... Tengkyu yaa... Pokoknya mah betapa ku cinta padamu deh. Salam Hormat High Quality Gombel.

Popular Posts

I HAVE BEEN

Recent Posts

ALLAH IS THE GREATEST

Allah's plan is always more beautiful than our desire.

GOING ARROUND

DEAR MY STALKER

Hello dear how are you? I am doing fine. Thank you for checking up on me.

DEAR MY BEST FRIEND

Thank you for making everything better. Thank you for inspiring me. Thank you for being my confidant. You never judged me for being vulnerable.